Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Saturday, June 18, 2005

Konsisten Untuk Mencapai Tujuan

Konsisten Untuk Mencapai Tujuan
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Bosan, jenuh, lelah, suntuk, dan banyak kata yang masih tersimpan dalam benak serta hati kita para mahasiswa universitas al-Azhar. Mesir negara padang pasir yang sangat gersang dan jauh berbeda dengan kehidupan kita di Indonesia menjadi salah satu alasan yang menyebabkan kata-kata diatas muncul dan bersarang di benak kita. Belum lagi Universitas al-Azhar sendiri, yang dimata dunia adalah universitas terkenal se-dunia dan tertua, mempunyai jalur administrasi kurang jelas, system pendidikan yang masih menggunakan system konvensional (dosen menjelaskan dan para mahasiswa hanya mendengarkan. Boleh bertanya, tetapi harus puas dengan jawaban sang dosen, kalau tidak akan dikeluarkan dari ruang kuliah, seperti SD, SMP, dan SMU), dan bangunan-bangunan universitas pun tetap apa adanya tanpa renovasi agar terlihat indah dan memberikan kesejukan para mahasiswa untuk memandangnya.

Mengapa para petinggi al-Azhar tidak menginginkan perubahan? Apakah dengan system konvensional akan mengantarkan para alumninya mampu bersaing dalam dunia yang sekarang dimana orang bukanlah hanya membaca dan mendengarkan apa yang dijelaskan serta dituliskan “sang guru” lagi, akan tetapi terus bergerak untuk membaca, meneliti, mengkaji dan menemukan inovasi terbaru? Apakah administrasi yang berbelit-belit akan tetap dipertahankan dalam universitas ini, walaupun jalur praktis dan sederhana sangat dibutuhkan ketika para mahasiswanya semakin banyak mencapai jutaan orang?

Jika dikatakan bahwa al-Azhar tetap menggunakan system konvensional karena kekonsistenannya agar mencapai tujuannya untuk menyebarkan agama Islam secara menyeluruh. Sangatlah tidak masuk diakal, karena system pendidikan seperti ini, walaupun dapat menyebarkan ajaran Islam itu sendiri, namun menyebabkan banyaknya mahasiswa yang “mandul”. Lihat saja, jika seorang mahasiswa tidak dapat berdiskusi dengan dosennya ketika penyampaian materi agar dapat bertukar pikiran, baik mengenai hukum yang terkandung dalam Islam maupun prakteknya. Ini akan menyebabkan sang mahasiswa malas dan tidak mempunyai keinginan mengetahui lebih dalam dan secara benar tentang masalah yang disampaikan. Yang akan menimbulkan kesalahpahaman dalam permasalahan tersebut. Selain itu, walaupun sang mahasiswa mampu mengerti permasalahan yang disampaikan oleh sang dosen, namun dimanakah dia dapat mempraktekkan ilmunya tersebut? Apakah yang dapat dilakukan oleh dia dalam hal itu? Ilmu hanya tinggal ilmu. Pemahaman hanya bermanfaat sewaktu ujian. Jika sang mahasiswa paham dan dapat menyampaikan serta menuliskannya dalam kertas ujian dengan baik, maka dia akan lulus. Apakah ini yang dinginkan al-Azhar? Saya kira tidak.

Kekonsistenan al-Azhar dalam menjalankan system pendidikannya sampai saat ini, perlu kita contoh. Namun seperti kalimat yang sering digunakan orang “Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk”, seperti itulah kiranya kita. Konsisten al-Azhar lah yang perlu kita ambil, dan penggunaan system konvensional yang ada sebaiknya kita hindari. Manusia selalu berubah, waktupun ikut berubah, dan juga kondisi, situasi serta keadaan dari zaman ke zaman selalu berbeda dan tidak akan pernah sama. Apakah system konvensional ini akan tetap sesuai dengan zaman yang semakin maju dan selalu berubah? Dr. Muhammad Abduh juga mengatakan bahwa Islam pada saat kegemilangannya mempunyai prinsip “Perhatikanlah, kajilah, telitilah, dan diskusikanlah” dan Kristen mempunyai prinsip “Bacalah dan dengarkanlah yang dikatakan oleh gurumu dan janganlah membantah”. Mengapa sekarang terbalik. Orang Barat menggunakan prinsip yang dulunya milik kita orang Islam, sebaliknya kita (Islam/Timur) menyerap pinsip yang dimiliki oleh Kristen, yang meyebabkan mereka terpuruk selama ribuan tahun dan baru bangkit.

Seperti yang saya sebutkan diatas, konsisten sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan, tapi dengan syarat konsisten yang sesuai dengan keadaan. Bukanlah sebaliknya. Ibarat kita sebagai mahasiswa. Kita diharapkan untuk selalu konsisten dalam melakukan kegiatan yang mengandung unsur pembelajaran, bukan hanya konsisten dalam hal hura-hura dan main-main. Memang hura-hura dan main adalah sesuatu refreshing kita, akan tetapi hanyalah selingan yang menjadi penyemangat kita agar selalu konsiten dalam melakukan kegiatan pembelajaran.

Sangat sulit memang untuk konsisten dalam kegiatan yang mendukung pembelajaran, namun kita manusia hanya bisa berusaha dan Allah swt. yang menentukan.

Saqr Quraisy, 9 April 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home