Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Tuesday, April 19, 2005

Manusia Setengah Dewa

Manusia Setengah Dewa
Lagu Iwan Fals

Wahai Presiden Kami Yang Baru
Kamu Harus Dengar Suara Ini
Suara Yang Keluar Dari Dalam Goa
Goa Yang Penuh Lumut Kebosanan
Walau Hidup Ada Permainan
Walau Hidup Adalah Hiburan
Tetapi Kami Tak Mau Dipermainkan
Dan Kami Juga Bukan Hiburan
Turunkan Harga Secepatnya
Berikan Kami Pekerjaan
Pasti Kuangkat Engkau Menjadi Manusia Setengah Dewa
Masalah Moral Masalah Akhlak Biar Kami Cari Sendiri
Urus Saja Moralmu Urus Saja Akhlakmu
Peraturan Yang Sehat Yang Kami Mau
Tegakkan Hukum Setegak-Tegaknya
Adil Dan tegas Tak Pandang Bulu
Pasti Kuangkat Engkau Menjadi Manusia Setengah Dewa

Lihat, baca, dan nyanyikan! Kita akan mengetahui, bahwa di dunia ini tidak ada hukum yang salah, tidak ada hukum yang dibuat untuk mengacaukan kehidupan, tidak ada hukum yang dibuat untuk menindas manusia. Akan tetapi yang ada hanyalah penyalahgunaan hukum oleh manusia. Buat apa sulit-sulit berusaha mengubah peraturan yang ada? Buat apa sulit-sulit berusaha mengganti pemimpin yang berkuasa jika yang naik tetap sama melakukan kesalahan sebelumnya? Yang cuma akan menghasilkan kesimpulan yang sama.

Suatu perbaikan tidak akan memunculkan hasil secara langsung dan “simsalabim” seperti sulap, akan tetapi dengan secara bertahap.

Islam pun dalam mengubah peraturan yang ada pada orang-orang Jahiliyyah, tidak dilakukan secara mendadak. Contohnya perubahan peraturan dalam minum arak. Islam tidak langsung melarang manusia untuk tidak meminumnya dan meninggalkannya. Seperti itulah juga kiranya kita berusaha mengubah pemerintahan serta orang-orang yang menyeleweng. Suatu negara tidak akan mencapai kejayaan, jika hanya dengan system demokrasi yang sering digembar-gemborkan oleh masyarakat sekarang, tidak akan mempunyai sumber daya yang cukup jika hanya menurunkan pemimpin yang kurang lurus, tidak akan mendapatkan impian jika hanya dengan mengganti dan merombak peraturan-peraturan yang ada.

Memang benar yang dikatakan Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, bahwa dalam memperbaiki negara, kita harus memperbaiki sumber daya dulu. Rakyat yang harus dibenahi, bukanlah system, peraturan, dan pemimpin. Dari pembenahan rakyatlah yang akan memunculkan sumber daya-sumber daya bermutu yang dapat dipilih menjadi pemimpin dan “dengan kehendak Tuhan” akan menjadikan negara terjamin. Lain halnya jika pemimpin itu terpilih dari orang-orang yang belum terdidik dan hanya mementingkan kepentingan sendiri. Maka hasilnya akan seperti itu juga, terlahir pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan sendiri dan tidak mampu menghadapi masalah.

Dari sana akan timbul pertanyaan. Siapa yang akan mengajarkan kepada kita keahlian sehingga terwujud sumber daya yang mumpuni dan mampu mendorong negara mencapai kemajuan? Sedangkan kita semua adalah orang-orang yang “mungkin” tidak mampu untuk melakukan itu.

Putud asa adalah sifat kita yang sangat mengkhawatirkan, sehingga kita tidak mau mencoba, karena takut akan hasil yang muncul. Keputusasaan kita untuk mendapatlkan orang yang pantas membina dan mendorong kita menuju ke sumber daya yang produktif lah yang menyebabkan kita tidak akan mencapai kemajuan yang kita harapkan. Keputusasaan kita yang hanya mengharapkan hasil secepat mungkin tanpa berusaha pulalah yang menjadikan kita terbiasa dengan formula-formula “jadi” dari Barat, sehingga kita menyerap produk mereka tanpa tendeng aling-aling dan langsung makan.

Bukankah kita sudah merasakan dari kecil dulu. Kita lahir dengan isak tangis yang keras, kemudian mulai berkembang dengan perlahan-lahan, masa demi masa kita mulai memahami dunia tempat kita tinggal, itupun juga secara perlahan-lahan, sampai kita besar dan dewasa, tanpa bimbingan orang tuapun sudah dapat melakukan aktifitas. Hal itu melalui masa yang panjang dan dibutuhkan kerja keras dalam mencapainya. Mengapa kita tidak sadar akan hal itu? Mengapa kita hanya menginginkan hasil yang cepat? Kita kembalikan pertanyaan itu kepada diri sendiri.

Saqr Quraisy, 10 April 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home