Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Tuesday, April 19, 2005

Islam, Agama Dan Negara!

Menanggapi “Mereka” Yang Ingin Memisahkan Dan Mengikatkan Secara Penuh Antara Agama Dan Pemerintahan
Oleh: Muhammad Abqary Abdullah Karim

Mengapa “mereka” selalu menganggap harus adanya pemisahan antara agama dan pemerintahan dengan alasan agar agama tidak kehilangan kemurnian? Mengapa “mereka” menyangka bahwa interfensi agama ke pemerintahan akan menyebabkan kelumpuhan pemerintahan itu sendiri? Mengapa “mereka” mengambil kesimpulan bahwa agama-lah yang menyebabkan kegagalan pemerintahan, baik di Barat maupun di Timur? Namun dilain pihak, mengapa ada yang mengharuskan adanya Tathbîq Syarî’ah Islâmiyyah dalam sebuah pemerintahan? Mengapa juga ada yang mengatakan bahwa Syarî’ah Islâmiyyah lah yang sempurna, sehingga pemerintahan akan mengalami kemajuan, jika Islam dilaksanakan secara penuh?

Semua hal diatas timbul dikarenakan penyimpangan sejarah yang dilakukan oleh mereka yang berkecimpung dan mengkaji sejarah. Bagaimana tidak, “mereka” yang mengatakan bahwa hukum Islam harus ditegakkan secara penuh tidakkah memikirkan tanggapan umat lain. Yang dari dulu kita ketahui tidak akan pernah menerima sedikitpun yang bersimbolkan Islam. Namun disamping itu, “mereka” yang mengatakan bahwa Islam harus terlepas dari pemerintahan, apakah tidak mengetahui keberhasilan Nabi Muhammad saw. dan para khalifah yang memimpin negara dengan mengambil dasar hukum Islam?

Sangat sulit memang untuk menarik kesimpulan yang dapat diterima oleh “mereka” yang memisahkan agama dengan pemerintahan. Memang sejarah menyatakan bahwa ketidakberkembangan Kristen diakibatkan tidak adanya pemisahan keduanya. Namun hal ini apakah sejarah yang sebenarnya? Apakah sejarah yang tertulis dan menjadi image kita selama ini benar?

Monsieur Hanoto, seorang Perdana Menteri Perancis pada tahun 1884, pernah saling beradu argumentasi dengan Dr. Muhammad Abduh tentang hal ini. Sang Perdana Menteri mengatakan bahwa Kristen atau Barat mengalami kemajuan setelah memisahkan kekuasaan agama dengan pemerintahan. Sedangkan Islam selama ini tidak pernah mencapai kemajuan sedikitpun dikarenakan penyatuannya dalam masalah agama dan pemerintahan.

Namun hal ini dijawab oleh sang Imam, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan dan mempunyai prinsip seprti itu (menggabungkan kekuasaan antara pemerintahan dan agama), akan tetapi Islam mengajarkan pembagian kekuasaan, dengan arti kekuasaan agama ditanggungjawabi oleh para ulama dan kenegaraan diurusi oleh para pemimpin, kedua kelompok tersebut tidak mempunyai interfensi terhadap yang lain.
Penggabungan kekuasaan dalam pemerintahan dengan agama dikarenakan para pemimpin yang tidak mempunyai pemahaman Islam secara menyeluruh, sehingga menjadikan agama sebagai tameng dalam berbuat sesuatu yang menyebabkan rakyat tidak berani membangkang terhadapnya.

Islam tidak salah dan mempunyai prinsip yang salah, akan tetapi orang yang menjalankannya lah yang salah.

Disamping itu, semua kesimpulan yang diambil oleh sang Perdana Menteri juga diingkari oleh para umat Kristen dan petinggi agama itu. Salah satu petinggi Kristen yang berasal dari Lebanon dan merupakan salah seorang yang menjadi rujukan Kristiani dalam masalah agama mereka, mengatakan bahwa Kristen atau Barat mengalami kemajuan bukan karena pemisahan agama dengan pemerintahan. Para petinggi Kristen Katholik Barat pun menyangsikan pendapat sang Perdana Menteri dan mengatakan bahwa kesimpulan yang diambilnya sangat tidak tepat, karena Barat mengalami kemajuan adalah karena masyarakatnya yang mempunyai prinsip untuk berkembang dan mencapai kemajuan, bukanlah pemisahan pemerintahan dengan agama tersebut.

Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia juga menyatakan bahwa dalam pencapaian negara ke kemajuannya bukanlah hanya memperbaiki sistem pemerintahan tersebut, akan tetapi haruslah memperbaiki sumber dayanya, baik manusia maupun alam.

Sebaliknya “mereka” yang menginginkan penggabungan agama dengan pemerintahan, yang biasa kita dengar dengan mengatakan tatbîq Syarî’ah Islâmiyyah. Apakah hal ini akan menjadikan negara mengalami kemajuan? Bukankah akan terjadi sebaliknya, akan terjadinya perpecahan antar agama yang selama inipun tidak memiliki pemecahan? Kita sebagai orang Islam memang mengakui bahwa ajaran Islam mempunyai ajaran yang sempurna. Namun bagaimana yang lain? Apakah mereka akan juga mengakui setelah melihat umat Islam yang tidak pernah mengalami kemajuan, kecuali sejarah-sejarah yang dulu? Jangan harap!

Mengapa kita tidak berusaha memasukkan ajaran murni Islam kedalam negara tanpa menyatakan dan dengan “embel-embel” nama Islam. Biarkanlah Islam menjadi pondasi, tanpa harus muncul dan disebut-sebut. Dan biarlah Islam tidak terlepas sama sekali terhadap pemerintahan, karena hal itu akan menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan tersebut.

Saqr Quraisy, 9 April 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home