Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Tuesday, January 25, 2005

Pak Tua Ber-Jas!

Pria Ber-Jas
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Azan maghrib mulai berkumandang. Ade masih tetap didepan komputernya. Disampingnya Rio berbaring sambil membaca buku kebanggaan yang tidak pernah habis dibacanya. Dikamar samping diapartemen yang sama Indra berkicau dengan diiringi musik pujaannya.

“Ah sialan!”, bentak Ade, karena jagoannya di straight fighter kalah KO. “Kenapa sih De, Kok teriak-teriak kaya gitu?”, tanya Rio tanpa menjauhkan mukanya dari buku yang dibacanya. “Ini nih si spiderman kalah, belum lagi komputernya hang mulu!”, jawab Ade sambil nunjuk-nunjuk komputer dihadapannya.

"Sedikit ngerti ngaku udah pahamKerja sedikit maunya kelihatanOtak masih kaya 'TK,Koq ngakunya SarjanaNgomong-ngomongin orangKaya udah jagoan…….
Indra terus mengikuti lagu slank yang disukainya. Indra teriak tanpa tahu ternyata Ade dan Rio udah berdiri di depan pintu kamarnya. “Cuit…cuittttttttttttttt artis kita!”, suara Ade dan Rio kur membuat Indra berhenti dari keasikannya “konser”. “Ahhhhhhhh…ngenganggu, orang lagi konser juga!”, jawab Indra nggak mau kalah.

“Assalamualaikum…assalamualaikum…assalamualaikum!”, bel apartemen berbunyi. Ade, Rio, dan Indra tiba-tiba saling menatap. Mereka bingung kok sepagi ini ada tamu, padahal baru jam 07.00 pagi. “Siapa ya…?”, akhirnya Rio yang mulai membuka mulut memecahkan kebingungan mereka bertiga. “ Sana buka pintu De!”, perintah Rio. “Ye…enak aja, loe sana yang buka dong!”, jawab Rio ngambek.”Ya…deh!”.”Mien barra?”.”Gas…ya Basya!”, jawab orang diluar. Gas kok pagi-pagi gini, biasanya Maghrib? Rio bingung.”Ha…ha…ha…!Rio nggak usah bingung gitu! Cepetan buka pintunya! nggak mungkin kan ada tukang gas sepagi ini!”, sambung orang diluar memecahkan kebingungan Rio di belakang pintu. “Ohhhhhhh…Rio langsung membuka pintu, Ali toh! Kok mirip banget kamu sama tukang gas ngomongnya,emangnya cita-citanya tukang gas ya?”, Rio nyengir berhasil ngebalas keisengan Ali. “Ya, gitu aja balas dendam, he…!”, Ali menjawab dengan wajah cemberut.

“Mana yang lain”, tanya Ali. “Indra lagi konser tuh, kalo Ade lagi di hammam!”, jawab Rio.”Eh…Indra konser apaan?”.”Biasalah…konser di kamar tercintanya, tambah lagi lagu kesenangan dia, udah deh…gak tau orang lain lagi!.

“Eh…ada Ali ya!”, Ade keluar dari hammam. “Loe ngapain pagi-pagi mandi De?”, tanya Ali senyum simpul. “Iya…bener! Kamu ngapain mandi pagi-pagi De? Nggak biasanya!”, Rio ikutan nimbrung. “Ah…kaya’ nggak tau aja kalian tuh!”, jawab Ade tersenyum simpul. ”Udah ah! Jadi nggak ke Tahrier entar malam?”, tanya Ade mengalihkan pembicaraan.

“Jadilaaah…! Masa nggak jadi!”,Indra langsung menimpali, menghentikan konsernya dan keluar dari kamar, ikut bergabung dengan teman-temannya. “Emang ngapain sih ke Tahrier?”, tanyanya lagi.

“Biasalah!”,Ade udah necis dengan jeans hitam dan kemeja putih.“Wih! Necis banget De’? Mau kemana emangnya? Mau ngedet ya? Apa mau silaturrahim ke rumah para kaum hawa?”, tanya Indra beruntun, sambil ngeliat bajunya sendiri yang kumel.

“Mau mandi juga ahhh…!”, lanjutnya nggak mau kalah dari Ade.

“Pergi dulu ya…!”, Ade minta izin ke teman-teman yang lain sambil membuka pintu rumah. “Eh…mau kemana loe dari tadi kok nggak dijawab?”, tanya Rio tanpa memalingkan pandangannya dari muqarrar yang dia baca. “Mau ngambil minhah di Bank Faisal!”, jawab Ade tergesa-gesa. “Yeee…ye…yeee…pesta dong habis ke Tahrier entar!”Ali teriak.

Ade tidak menanggapi teriakan Ali lagi, karena dia sudah terlambat. Satu jam setengah lagi Bank Faisal tutup. Padahal perjalanan ke Ramsies dengan el Tramco makan waktu satu jam-an. Belum lagi berjalan ke stasiun Metro Anfaq dan ke Bank Faisalnya.

“Kalau terlambat sedikit saja bakal ngambil besok!”, gumam Ade dalam el Tramco.

“Kurie!”, sapa orang tua berjas yang duduk disamping Ade. “La! Andunisie ya…Ustadz!”, jawab Ade malas. “Kulliya eih? Syari’ah?”,tanyanya lagi. “Kulliya Syari’ah Wal Qonun, Sanah Tsaltsa!”, jawab Ade tersenyum pahit. “Rese banget orang tua ini!”, Ade berontak dalam hatinya. “Ohhh…Qonun! Ha tirga’ Andunisie wala bittasil kulliya hina ba’da takarrajta?”, tanya si orang tua berjas tanpa bosan-bosan. “Ha Argi’ Andunisie awwil wa hastamir kulliyah fi Ustralie! Inta ‘Arif Ustralie wala la ya…Ustadz!”, tanya Ade balik. “La!”, jawab orang tua itu singkat.

Nah…ini satu lagi gumam Ade di dalam hati. Udah necis pakai jas tapi tidak tahu tentang Australia.

Nggak salah memang pepatah mengatakan “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakannya”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home