Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Friday, January 14, 2005

Haramie!

Haramie!
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Dua jarum jam terarah ke angka 10. Suasana sunyi masih meliputi jalan raya 10th district. Hanya beberapa kendaraan saja yang lalu lalang. Di salah satu kamar apartemen yang dihuni Rio, berkumandang tilawah al-Quran dari computer, yang ada di samping kasurnya, yang terdampar rapi. Rio sedang duduk bersila diatas sajadah abu-abu sambil membaca buku qonun dauli, salah satu buku diktat kuliah fakultas Syari’ah wal Qonun tingkat II Universitas al-Azhar.

Kring…kring…kring…! Bel berbunyi. Rio beranjak dari atas sajadah abu-abunya dan segera membuka pintu.

“Assalamualaik!”, sapa orang yang membunyikan bel. “Oh…! orang Mesir!”, gumam Rio dalam hati. “Fi eih ‘Ammu?”, tanya Rio segera. “Gas…Yabnie!”, jawabnya. “Itfaddal ‘Ammu! Ikhla’ khidza bita’tak, law samah!”, Rio mengingatkan petugas pencatat meteran gas sebelum dia melangkah masuk ke rumah. Memang sudah kebiasaan bagi orang Mesir masuk ke rumah memakai alas kaki yang mereka pakai, namun bagi Rio kebiasaan mereka itu nggak harus berlaku juga di apartemen yang dia sewa. Dengan terpaksa petugas itu melepas alas kakinya, dan kemudian masuk berjalan ke dapur. Setelah mencatat angka yang tertera di meteran gas, dia segera keluar. “Syukran!”, ucap petugas itu. “’Afwan!”, jawab Rio dan langsung menutup pintu ketika petugas itu mulai membunyikan bel apartemen depan.

“Ada apa Rio?”, tanya Andre. “Nggak ada apa-apa kok, Cuman petugas gas!”, jawabnya. “Oh!”, Andre menggumam. “Eh…Loe kuliah nggak hari ini?”, tanya Andre lagi. “Ya… Insya Allah, mau minta tasdiq dan tadarruj. Syarat buat ngajuin beasiswa di Bait Zakat!. “Lah… kamu mau kuliah nggak?”, tanya Rio balik. “Nggak ah! Gue nitip aja ya?”, katanya memelas. “Huuu…!”, ejek Rio sambil menggerakkan bibirnya kedepan.

Andre adalah anak Jakarta yang datang ke Mesir bersamaan dengan Rio, tetapi karena ada 3 lebih dari mata kuliah yang dia tidak lulus, Andre masih duduk di tingkat I fakultas Syari’ah Islamiyah. Ini juga menyebabkan dia nggak bisa ngajuin beasiswa ke instansi manapun, karena syarat pertama beasiswa di Mesir adalah kenaikan tingkat. Mungkin ini juga yang menyebabkan dia malas pergi ke kampus. Rio sendiri adalah anak asal Bandung, dia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya yang pertama adalah perempuan dan sekarang kuliah di Australia. Sedangkan adiknya yang terakhir adalah laki-laki seperti dia, sekarang masih sekolah di Indonesia.

“Nitip apa Dre?”, tanya Rio. “Nitip muqarrar!”, jawabnya. “Nih uangnya!”, sambil mengeluarkan uang Le. 50, dia menyerahkan uangnya ke Rio. “Eh…nitip muqarrar apaan?”, tanya Rio lagi. “ Nitip qadaya kalau ada!”, jawab Andre agak kesal. “ Oh… kalo gitu kembaliannya buat aku ya!”, sambil tersenyum Rio masuk ke kamar ngambil handuk. “Yee…enak aja loe!”, teriak Andre tambah kesal.

Pandangan Rio tertuju ke jadwal kuliah di dinding kamar. “Ada kuliah apa ya hari ini?”, tanyanya dalam hati. Oh…jam sembilan qonun dauli, jam 11 fiqh, jam 1 lewat 30 bahs fiqh. “Sekarang udah jam setengah delapan, harus cepat mandi nih, kalau nggak mandi sekarang bakal sejam nunggu bis, belum lagi harus berdiri di ruang kuliah selama 2 jam!”, pikirnya. Rio segera mengambil handuk yang tergantung dan masuk ke kamar mandi.

Rio keluar dari apartemen, rapi berjeans dan kemeja biru muda. Dia berjalan dengan santai menuju penjual Koran. “’Ammu, al-Ahram wahid!”, ucapnya. “khamsa sab’in, ya sadiq!”, jawab penjual Koran sambil menyerahkan satu bandel Koran. Rio segera menyeberang menuju halte bis.

30 menit sudah berlalu, Rio masih berdiri tegak di halte bis sambil membaca Koran yang baru dibelinya tadi. Disekitarnya banyak juga yang sedang menunggu bis. Di depan mereka lalu lalang kendaraan umum maupun pribadi.

“Plak!”, tiba-tiba punggung Rio ada yang menepuk. “Izzayyak habibie? Izzay hal? Hatruh fien Inta? Kulliya ?”, tanya orang yang menepuk punggung Rio sambil menjabat tangannya dan menyentuhkan kedua pipinya ke pipi Rio. Beginilah kebiasaan orang Mesir kalau bertemu dengan teman atau orang yang sudah dikenal. “Izzayak ya Ali? Ana bikhair Insya Allah! Quaisy ! Aiwa, haruuh kulliya! Wa Inta? Hatruh fien, kulliyah bardu?”, jawab Rio beruntun, tapi emang kaya ginilah orang Mesir ngejawab sapaan teman-teman mereka. “Aiwa!”, jawabnya santai. “Yalla Nimsy Sawa!”, lanjut Rio.

“Yuuh…zahmah awi Ali, Izzay hanitla’ wala la?”, tanya Rio ke Ali setelah ngeliat bis 80 coret penuh dengan para mahasiswa sampai berjubel ke pintu dan bergelantungan disana. “Yalla nitla’!”, kata Ali cepat sambil berlari kecil ngejar bis yang masih jalan biar dapat tempat. “Lau nastanna utubis tsani ha nasil kulliya ba’da sa’ah kaman!”, lanjutnya. “Benar juga! Kalo nggak naik sekarang bakal satu jama lagi nunggu”, pikirku. Aku ikut berebut dengan orang-orang Mesir yang postur tubuhnya lebih besar dari orang Asia. Dengan susah payah akhirnya aku dapat juga masuk ke bis.

Bis di Cairo nggak kalah dengan bis di Jakarta, mungkin kalau dilihat bakal menang deh padatnya, pengapnya, ditambah lingkungan Mesir yang penuh debu. Bayangkan saja sampai ada yang gelantungan di pintu bis, terus dibagian dalam bis orang-oang penuh sesak saling gencet kaya di mesin cuci.

Dompet, hp dimasukkan ke tas, dan tas di pindah ke bagian depan badan. Hal ini yang selalu aku lakukan setelah naik bis. Apalagi bis yang kunaiki padat seperti ini.

Belakangan ini pencuri di bis mulai berkembangbiak. Nggak cuman orang luar negeri saja yang dia curi, tapi orang Mesir pun juga jadi mangsa mereka. Padahal setahuku, orang Mesir sangat nasionalis, mereka mau mencuri barang orang luar negeri dan enggan mengambil barang milik teman mereka sewarga negara, tapi apa mau dikata, memang penyakit yang tidak baik akan cepat menular ketimbang hal yang baik.

Motif mereka mencuri pun sama, kalo nggak menyentak kaki “mangsa” atau pura-pura sakit kaki sehingga si “mangsa” berusaha menolong.

Setelah seperempat jam berada di atas bis, terdengar ada yang berteriak,”Haramie…haramie…haramie…!”.Orang-orang yang berada di dalam bis pun rebut mendengar teriakan. Namun, penumpang-penumpang lain tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan bergerak saja susah, apalagi mau menangkap si pencuri.

Setelah beberapa lama mendengarkan percakapan dan bertanya ke orang Mesir ternyata yang kecurian juga orang Mesir. Hp, uang Le.100, credit card semua ludes dibawa pencuri tersebut.

“Hah…!Pencuri…pencuri!”, desahku pelan. Nggak cuman di Indonesia , di sini ternyata juga ada. Tapi apa peduliku, yang kecurian juga orang Mesir. Never Mind.
Saqr Quraisy, Feb 15 ‘05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home