Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Friday, December 24, 2004

Persahabatan

Persahabatan
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Solo, 2 Mei 2002

Suasana senang dan gembira meliputi para murid kelas 6 PPMI Perdamaian, karena hari ini mereka akan di wisuda. Itu berarti mereka akan bebas dari kekangan yang membelenggu mereka selama enam tahun ini. Santriwan dan santriwati berbaur, hilir mudik terlihat resah sebelum pelaksanaan wisuda. Ada yang berbicara dengan orang tua, ada yang didandani, ada yang teriak-teriak memanggil yang lain, ada yang berpose di depan kamera bersama orang tua, hanya saya bersama dua teman akrab yang tidak bersama orang tua. Nggak berarti orang tua kami nggak datang, Cuma mereka sudah memasuki ruangan yang disediakan.

“Eh…ngomong-ngomong pada mau ngelanjutin kuliah dimana nih?”, tanya Ari salah satu teman akrab saya, berkacamata, anaknya berwibawa, mantan sekretaris OP3MIA ketika kami kelas 5, paling bijaksana dalam menyelesaikan masalah diantara kami bertiga. “Aku udah jelas kan mau ngelanjutin kemana?”, jawab Rio. Teman saya yang satu ini memang termasuk saingan saya dikelas, anaknya periang, gak pernah cemberut, selalu tersenyum. Saya di peringkat teratas di kelas, dia peringkat duanya. Memang Rio sudah jelas di mau ngelanjutin kemana, karena dia sudah dapat PMDK di ITB, fakultas Tekhnik. “Yang belum jelas tuh…si Andri mau kemana gak bilang-bilang!”, lanjutnya. “Kamu mau ngelanjutin kemana Ndri?”, tanya Ari. “Kalo saya tetap yang kaya dulu, ngelanjutin ke Yaman!”, sambungnya. “Kalo saya mau ngelanjutin ke Mesir tuh!”, jawabku acuh. “Hah!”, serentak mereka berdua kaget. “Heh..dari kapan kamu punya niatan ke Mesir Ndri?”, tanya Rio duluan, sebelum Ari sempat ngeluarin pertanyaannya. “Dari tadi!”, jawabku sambil tersenyum. “Ha…ha…ha!”, tawaku karena ngeliat ekspresi dua teman akrabku terkejut. “Udah tau aku mau ngelanjutin ke kedokteran, masih aja nanya!”, celetukku. “Ya…siapa tau aja berubah kan!”, kata Ari merengut. “Udah yuk!’, lanjut Ari. “Ya, Udah mau mulai tuh wisudanya!”, lanjutku.


Banjarmasin, 10 Juni 2004


To : Rio
Cc : Ari
Subject : Kabar Terbaru Dariku!

Ass…Ari, Rio!
Ternyata benar kamu Ri!, Saya berubah pikiran mau ngelanjutin kuliah ke al-Azhar Mesir sekarang, setelah disarankan orangtua! Tapi kalian jangan bingung dulu, ini adalah keputusan saya sendiri, orangtua saya nggak ada yang memaksa. Saya ngambil keputusan ini sebelum turun hasil SPMB, nah ternyata hasil SPMB yang udah tidak menjadi pikiran saya lagi adalah saya lulus di kedokteran UI. Kedokteran UI saya lepas, dan akan berangkat ke Mesir sekitar tiga bulan lagi. Saling mendoakan Ari, Rio ya! Semoga kita menjadi orang yang bermanfaat di masa mendatang. And jangan lupa saling nge E-mail! Ok!
Wass…

Klik…, saya restart komputer di kamar. Udah empat hari empat malam komputer itu belum saya matikan.

“Dri…Andri!”, Ibu memanggil. “Ada apa bu?”, teriakku. “ Ada telpon tuh dari om Hanief!”, lanjut ibu saya. Saya bingung , kok om Hanief, adek ibu yang paling muda dan sekarang duduk di DPRD daerah tingkat I, tumben nelpon ke saya, biasanya bicara sama ibu. “Ya…bu!”, segera saya angkat gagang telpon. “Halo!”, ujarku. “Halo, Assalamualaikum!”, suara diseberang mengema. “Ada apa om!”, kataku cepat. “Katanya, kamu ngelanjutin ke Mesir?”, tanya pamanku tanpa basa-basi. “Ya, kenapa, om, pasti ibu yang ngasih tau ya?”, tuduhku balik. “Eh…jangan asal tuduh gitu, nggak baik. Bapak kamu yang ngasih tau om. Trus SPMB nya dikemain Ndri?”, tanya om. “Ditinggal om!’, jawabku. “Wah! Sayang banget Ndri. Nggak diambil aja?”, tanyanya lagi. “Nggak om, Andri udah mutusin ke Mesir!”. “Oh! Kalo gitu yang rajin ya belajar disana, ingat kedokteran sudah kamu lepaskan!”, nasehatnya. “Insya Allah om!”, jawabku. “Udah! Mana ibu kamu, om mau ngomong!”, lanjutnya. “Bu…,Om mau ngomong!”, teriakku. Saya tutup telpon dan terpikir oleh saya apa yang mau diomongkan om saya. “Hah! Sudahlah, buat apa ngurusin urusan orang tua!”, pikirku.

Banjarmasin, 29 Juni 2002

Tring…tring…tring… komputer saya bunyi. “Wah! Ada E-mail masuk!”, seruku. Setelah saya kilk tanda surat dibagian kanan bawah komputer, ternyata ada dua E-mail yang masuk. Pertama reply dari Ari dan yang kedua dari Rio. “Hah!”, desahku. Setelah dua minggu saya menunggu balasan dari mereka, baru sekarang dibalas.


To : andri_brilian@yahoo.com
Subject : Nih Kabar Saya!

Ass…
Wah, kaget saya Ndri. Kok bisa?. Kamu nggak mikir dua kali atau tiga kali, kalo bisa seribu kali deh!. Kan cita-cita kamu dari dulu dokter, kenapa sekarang berubah haluan?. Tapi kalo memang itu sudah menjadi keputusan akhir kamu. Aku sebagai teman nggak bisa melarang, malah mendukung. Temanku adalah lulusan al-Azhar Mesir. Wah betapa bangganya aku punya teman kamu, Ndri!. Yang penting Ndri, kamu memutuskan ini adalah kehendak kamu sendiri. Biar nggak menjadi kekangan buat kamu!

Eh! saya sudah mulai kuliah di ITB nih, Ndri! Anak sini enak-enak orangnya, ramah, sopan, nggak ugal-ugalan. Saya udah jalan dua minggu nih kuliah! Kaya’nya sih cocok!

Kapan berangkat ke Mesir Ndri? Kasih kabar ya! If any phonenumber of U there, send me it!. Pake sms kek, ato pake E-mail. Yang penting kasih kabar. Saya juga kan selalu kasih kabar. Tapi nggak sesering kamu, gak punya komputer kaya’ kamu sih Ndri 


To : andri_brilian@yahoo.com
Subject : Bonjour!


Ass…
Heh kok ke Mesir beneran, makanya jangan asal ngomong kaya dulu, eh.. jadinya beneran kesana deh.

Selamat lah Ndri atas keputusan kamu, aku mendukung selalu keputusan kedua teman akrabku, asal itu keputusan kalian sendiri. Aku punya saran nih Ndri, jangan sia-siakan kesempatan kamu kuliah di Mesir, karena kamu sudah melepas kedokteran yang kamu idam-idamkan dari dulu.

Aku sekarang sudah ada di Yaman. Af1 nggak ngasih kabar kamu and Rio, masalahnya saya buru-buru berangkat, jadinya kelupaan ngabarin kalian. Ini nomor HP saya Ndri +96773639634, nah 96 itu kode Yaman selanjutnya nomor HP saya. Sms ya! Kasih kabar trus Ndri ke aku, Insya Allah aku juga.
Wass…

“Ah! Capek! Entar aja ah ngebalasnya”, desahku. Saya matikan komputer dan membaringkan badan diatas kasur.

Jakarta, 20 Oktober 2002


Rio sorry, Br Ksh Kbr. x Hr Ini Brgkt Ke Msr! Stlh smp x ksh kbr entar.

Kukirim sms itu ke Rio. Cuma mau ngasih kabar teman akrab saya tentang keberangkatan ke Mesir.

Nggak berapa lama lagu Indonesia raya dari hp saya berbunyi. “Hmm…ada sms!”, gumamku. “oh balasan dari Rio


Yaa Km kok br ksh kbr skrg sih Ndri,x kan mau ngntr! Tp gpp lah. Smg slmt Ndri smp tjan. X di Kmps skrng. Ingt ya ksh kbr!


Ya! Smngt bljr Rio ya! We must do the best!


Dubai, 21 Oktober 2002

“Wah capek juga!”, gerutuku. Gimana nggak capek duduk di kursi selama 14 jam lebih, di kursi pesawat yang senyaman apapun, tetap bakal pegal. Kegerakkan seluruh tubuhku ketika keluar dari pesawat dan transit di Dubai, setelah keluar dari boarding pass aku langsung kelayapan nyari warnet, karena handphone udah nggak bisa digunakan. Setelah berjalan seperempat jam, akhirnya kutemukan juga warnetnya. Tetapi sebelum masuk ke sana aku bingung, ngomong apa?. “Afwan…eh…excuse me!”, akhirnya kuputuskan memakai bahasa inggris.” Na’am!”, jawab penjaganya. “Speak English?”, tanyaku. “Yup…Oh,Sorry. I hear you speak Arabic later!”, jawabnya dengan logat inggris ke arab-araban. “How much I pay for net in one hour?”, tanya saya. “Just see it!”, kata penjaga itu senyum-senyum sambil menunjuk papan yang terpampang di bagian samping kanan ruangan itu. “TWO DOLLARS FOR ONE HOUR”. Malu juga, niat pengen basa-basi, akhirnya dikira nggak bisa baca tulisan. Tanpa menunggu, aku langsung nyari kursi kosong.


To : Rio
Cc : Ari
Subject : Aku di Dubai nih!

Ass… alhamdulilah saya udah di Dubai nih, lagi transit disini sekitar delapan jam. Insya Allah habis dari sini ke Cairo, Mesir langsung. Wih tau nggak pegal-pegal nih badan, gara-gara duduk terus di pesawat, emang sih sit nya lebih bagus dari penerbangan domestik, tapi kalo lebih dari 14 jam duduk di kursi bisa ngebayangin nggak? Heee.. becanda kok! Nggak cape banget sih!
Eh udah dulu ya ! mau masuk hotel nih istirahat! Entar setelah sampai di Mesir aku kasih kabar lagi!
Wass…

Setelah masuk hotel saya langsung tertidur, karena capek. Sekitar jam 04.30 pagi saya terbangun. “Haaaa…haaa (mangap)!”, Hmm… masih dua jam lagi baru berangkat. Saya gerakkan kaki ke kamar mandi untuk mandi dan siap-siap berangkat.

Mesir, 22 Oktober 2002

Wah! Setelah tiga jam lagi duduk di sit pesawat, akhirnya sampai juga di Mesir.

Setelah sampai di Mesir saya niatkan lagi, bahwa saya kesini adalah untuk belajar. Banyak orang yang mengharapkan keberhasilan saya di dalam studi, orang tua, keluarga, teman terutama Rio dan Ari, dan masyarakat Indonesia.

Diawal minggu kedatangan di Mesir, saya habiskan dengan mengirim kabar ke orangtua, keluarga, Rio dan Ari.

Hari-hari di Cairo saya habiskan dengan belajar, saya sadar kuliah di luar negeri sangat sulit, saya dituntut untuk menerjemahkan diktat ke bahasa Indonesia trus memahaminya, kalo dikira-kira dua kali lipat kuliah di Indonesialah. Tapi inilah masalah yang harus diselesaikan. Hal yang sulit bukan berarti nggak bisa disiasatinya.


Perancis, 2 Agustus 2007

Tring…tring…tring…komputer yang ada dihadapan saya berbunyi. “Wah! Ada E-mail masuk!”, seru saya. “Eh…dari Ari!”, lanjut saya.


To : Andri
Cc : Ari
Subject : Kemana kalian pergi!

Ass…
Halooooooooooo…! Kalian berdua kemana? Udah satu tahun nggak pernah kirim kabar lagi, kirim E-mail nggak, kirim sms juga nggak!
Aku sekarang udah pulang ke Indonesia nih!
Gimana kalo kita reuni tanggal 20 Agustus 2007 di tempat kita dulu kumpul setelah wisuda.
E-mail in nggak usah dijawab, kutunggu kalian disana dari jam 12.00 siang sampai di penghujung tanggal 20 Agustus. Ok!
Wass…

Waduh nekat juga si Ari. Saya bingung, sekarang saya di Perancis, dan kerja di Kedutaan di bagian pendidikan yang nggak bisa minta cuti begitu saja, karena sehari saja cuti pekerjaan akan terbengkalai. Tapi kalo dipikir-pikir, benar juga Ari, kami bertiga sudah nggak saling kirim kabar selama satu tahun terakhir ini. Gimana Ari sekarang? gimana Rio sekarang? Dimana Rio? Apakah mereka berdua udah kerja seperti aku?.

“Bon soir!”, sapa salah satu orang Perancis yang lagi punya urusan di Kedutaan. “Bon soir!’, jawab saya. “Quelle heure est-il?”, tanyanya. “Il est cinq heures!”, jawab saya dengan agak kesal. “Tumben orang Perancis serese’ ini!”, pikir saya lagi. Ternyata setelah saya lihat ke pergelangan tangannya, memang, nggak ada jam tangan. “Merci…Orevair!”, lanjutnya menyadarkan saya dari lamunan. “Orevair!”, balasku.

Komputer berbunyi lagi. Tring…tring…tring…Memindahkan pikiran saya kelain masalah lagi. Bagaimana caranya mendapatkan cuti? Bagaimana persiapan jika bisa cuti? Banyak masalah yang perlu dipikirkan.

Akhirnya saya coba untuk menulis surat permohonan cuti keatasan dengan alasan reuni. Kalau memang nggak dapat izin berarti nggak bisa berangkat, nggak tahu E-mail apa yang akan datang akhirnya nanti dari Ari. Setelah selesai buat surat, segera saya ajukan ke atasan.

Dengan agak gugup memasuki ruangan beliau, saya serahkan surat. “Apaan nih Ndri?”, tanya beliau. “Surat permohonan cuti Pak!”, jawabku cepat dengan suara agak bergetar.

Setelah beberapa menit menunggu jawaban dengan tegang, akhirnya atasan saya membuka mulut. “Boleh Ndri…!”, ucapnya. Wah…senang hati saya tak terkira. Terbayang di otak saya bagaiamana pertemuan menanti dengan Rio lulusan ITB Fakultas Tekhnik, dan yang satu lagi, Ari, Mahasiswa lulusan Yaman. Apakah mereka sudah punya kerjaan? Sudah beristrikah mereka?

“Ndri!”, tegur beliau menyadarkanku dari bayangan pertemuan dengan dua teman akrab saya. “Ya, Pak!”, jawabku kaget. “Tapi…kamu harus kembali ke Perancis setelah tiga hari di Indonesia!”, lanjutnya. “Baik, pak!”, jawabku lagi. “Jangankan tiga hari, kalau sehari pun saya mau!”, gumamku dalam hati.



Solo, 20 Agustus 2007

Saya starter mobil baru yang saya beli setelah saya sampai di Indonesia. Nggak sabar lagi perasaan ini untuk bertemu dengan mereka berdua. Saya segera melaju ketempat dimana kami pernah berpisah dulu. Setelah 45 menit mengendarai mobil Honda, akhirnya saya sampai di tempat yang dijanjikan Ari. Namun ketika saya sampai ditempat perpisahan kami dulu, yang tidak jauh dari parkiran mobil saya. Tidak ada seorang pun disana yang cocok menjadi dua teman saya, hanya ada anak-anak yang lagi asyik bermain.

“Assalamualaikum…!”, dua suara serempak terdengar dari belakang saya. Dengan spontan saya balikkan badan, dan ternyata ada dua orang dewasa yang sebaya dengan saya. Yang satu berjenggot, berkacamata, dan berwibawa. Yang satu lagi sama seperti saya, muka licin tanpa jenggot dan kumis, namun bedanya saya berkacamata , dia tidak.

“Perkenalkan, saya Ari Rahmat Wibowo. Diplomat, dan sekarang bekerja di Kedutaan Saudi Arabia!”, lanjut si berjenggot nan berwibawa memperkenalkan diri. “Wahhhhhh…Ari!”, teriakku seperti anak kecil yang menemukan suatu yang hilang lama darinya. Saya peluk teman saya yang satu ini dengan erat, tanpa berpikir ada orang lain yang menyangka kami adalah gay, karena ini di Indonesia bukan Perancis.

“Perkenalkan saya juga. Sarjana Tekhnik dan sekarang bakal berangkat ke Australia Ngambil Pasca Sarjana disana!”, sapanya dengan senyum yang tidak pernah akan saya lupakan. “Rio!”, dengan sedikit menagis kusebut nama itu. Ternyata dua teman akrab saya yang sudah lama tidak saling ketemu, sekarang bisa bersama mereka tanpa diduga-duga. Di tempat dimana kami berpisah dulu.

Setelah kami saling berpelukan satu sama lain, akhirnya kami duduk dibawah salah satu pohon yang ada dan saling melepas kerinduan yang ada serta saling bercerita tentang kami masing-masing.

Betapa Indahnya Persahabatan
Jika Itu terus Terjalin
Madrasah, Okt 1 ‘04

0 Comments:

Post a Comment

<< Home