Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Saturday, November 13, 2004

Mumtaz!

Namaku Ryco Aditya, mahasiswa al-Azhar, Jurusan Sya’riah wal Qonun. Sekarang aku sudah hampir dua tahun menempuh kuliah di negeri kinanah ini, kuliahku pun lancar. Indra adalah teman dekatku, dia juga mahasiswa, tetapi di jurusan Sya’riah Islamiyah, karena ada suatu musibah --kematian orang tuanya—dia pulang dan tidak mengikuti ujian, dan akhirnya kelancaran kuliahnya terganggu.

“Ry, bangun…bangun! Udah nyampe Darrasa nih! Ayo…bangun, entar jalan lagi lho…bisnya!”, Indra susah payah membangunkanku dari tidur. “Eh…oh..eh…haaa…(mangap) udah nyampe ya Dra?”, tanyaku masih menahan ngantuk. “Belum!”, jawabnya sambil cemberut.”Udah di Hay ‘Asyir?”, lanjutnya. “Eh…yang benar aja Dra?”, tanyaku bingung. “Masa udah balik lagi ke Hay ‘Asyir, padahal dari sana tadi berangkatnya”, pikirku dalam hati. Setelah kulihat keluar bis, ternyata Indra hanya bercanda. Kaya’nya dia kesal aku tinggal tidur di bis 80 coret.

“Eh…lho! Kok bisnya jalan lagi!”, aku kaget. “Ya ‘Ammu istanna, Ha Anzil!”, ucapku tergesa-gesa lari ke pintu depan bis. Si supir tetap aja ngegas, nggak mau berhenti. “Yaa…nggak mau berhenti deh…!”, gerutuku dalam hati. Sekali lagi aku bilang ke supir,”’Ala Gambi, Ya …Astho!”. Tetap aja tuh supir nggak mau berhenti. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku turun di depan Masyikhah. Kesal juga dicuekin, tapi dipikir-pikir, lumayan, hitung-hitung olahraga dan ngilangin ngantuk yang masih menyerangku.

“Wih…panas banget!”, aku baru sadar, setelah turun bis, ternyata aku lupa membawa topi dari apartement. “Waduh mana jauh lagi jalannya!”, gerutuku. “Yaa.. mau gimana lagi!”, pikirku. Kupercepat jalanku, setengah berlari, biar bisa nyusul Indra. “Dra…!”, teriakku setelah jarak antara aku dan Indra sudah agak dekat. Indra menoleh ke arahku dengan tersenyum simpul dan akhirnya ketawa. “Ha..ha…ha…! Enak olahraganya Ry? Makanya jangan suka tidur di bis! Di bis 80 coret lagi!”, sindirnya. “Untung aku bangunin tadi, kalo nggak, bisa balik ke Hay ‘Asyir lagi kamu!”, lanjutnya. “Ya…deh!”, jawabku kesal. Setelah Indra nyindir aku tadi, aku sempat berpikir,”Benar juga Indra, sejak kapan aku bisa tidur di bis 80 coret?, udah bisnya jalannya kaya “bebek”, penumpangnya berjubel kaya “kandang ternak”. Wah…jangan-jangan aku udah jadi orang Mesir. “Tidaaaaaaakkkk…!”, teriakku dalam hati.

“Udah ngelamunnya!”, Indra menegurku sekaligus menyadarkanku dari lamunan. “Ayo…jalan!”, lanjutnya. Kami berdua berjalan dengan santai menuju kampus.

Setelah sampai didepan pintu gerbang kampus, lagi-lagi, aku dibuat kesal oleh orang Mesir, gimana nggak kesal, Pas mau masuk, bawwab kuliah bertanya, ”Fien Karneh?”. Dengan malas kukeluarkan karneh, Indra juga mengeluarkan karnehnya sambil myeletuk,” Tumben ya, kok diperiksa, biasanya nggak?”. “Kali aja ada pencuri masuk kesini kemaren Dra!”, jawabku singkat. “Mungkin kali ya!”, dia membenarkan. Setelah kami berdua menunjukkan karneh, bawwab itu membolehkan kami masuk.

Begitu kami berdua masuk kampus, dari pintu gerbang terlihat para mahasiswa berjubel di depan pintu masuk fakultas Syari’ah wal Qonun. “Ada apa ya?”, pikirku. “Waaaahhh…Dra kaya’nya jadwal ujian udah turun tuh!”, teriakku. “Ya kali!”, balasnya. Memang, kami berdua sengaja datang ke kampus hanya buat nyari jadwal ujian, sekalian tanya ke mahasiswa yang lain tentang tahdid.

Sistem kuliah di al-Azhar ini memang beda dengan sistem pendidikan yang lain, al-Azhar masih menganut sistem konvensional, dimana kita para mahasiswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan dosen tanpa adanya dialog. Terlebih lagi transfortasi yang menuju ke daerah kampus relatif sedikit dan kurang “nyaman”, kalo’ ngambil waktu berangkatnya salah, bisa-bisa satu jam lebih nunggu bisnya, belum lagi lingkungan yang sangat tidak mendukung, dimana-mana ada sampah, debu, panasnya “minta ampun” kalo’ musim panas, dinginnya gak kalah kalo’ musim dingin, sehingga mayoritas mahasiswa asing lebih memilih belajar sendiri di rumah, karena tidak cape’, dan bisa lebih banyak membaca serta memahami muqarrar, namun sikap ini memang masih perlu dipertanyakan, bagaimana kita mau memahami secara keseluruhan pelajaran, sedangkan diktatnya menggunakan bahasa Arab?.

“Wah…Beneran turun jadwalnya Ry!”, ucap Indra. “Yaaaa…sisa seminggu lagi Dra!”, balasku. “Yaa, Gimana nih, kamu dah siap Ry?”, tanyanya. “Udah dong!”, jawabku cepat. “Walah, mana siap kamu Ry, tiap hari tidur mulu!”, balasnya lagi. “Lah, udah tau nanya!”, kujawab dengan kesal. “Udah ah, lihat jadwal ujian kamu sana Dra!”, lanjutku. “Ya…deh!”, jawabnya. “Assalamualaik!”, tiba-tiba orang Mesir disamping menyapaku. “Waalaikumsalam!”, jawabku. “Fii alam?”, tanyanya. “Huh…dasar orang Mesir, bisanya minjam terus, beli kek! Udah belum nulis jadwal lagi. Pasti habis minjam nggak dikembaliin!”, keluhku dalam hati. Dengan malas kuulurkan juga pulpenku. Setelah menunggu beberapa menit, dia selesai menulis jadwal, akhirnya pulpenya dikembalikan ke aku. Kutulis jadwal ujian dengan tulisan latin dan cepat. Eh…orang Mesir yang lain nyeletuk,”Eih… dza? Bitaktub Bil Injlizy!”. Hah! Dasar orang Mesir rese’. Kupercepat menulis jadwal, setelah selesai aku langsung menuju etalase dimana Indra lagi nulis jadwal ujiannya. “Udah Dra?,” tanyaku. “Belum, Bentar lagi Ry!”, jawabnya. “Aku naik ke tingkat dua dulu ya! Mau masuk Muhadlarah nih!”, sambungku. “Ya udah!”, balasnya.

Setelah mengikuti muhadlarah Qada’ Idary selama dua jam, aku keluar dan langsung pulang ke apartement. Setelah sampai di apartement kulihat Indra sudah terlelap di atas kasur dengan ditemani musik kesukaannya, suara Syeikh Sudeis. Kuletakkan barang bawaanku dan langsung ngambil air wudlu buat shalat Ashar.

“Eh…gimana natijah kamu Ry?”, tanya Indra. “Katanya tingkat tiga Qonun udah turun tuh!”, lanjutnya. “Beneran tuh Dra?”, tanyaku kaget. “Ya…beneran! Tadi Fahmi yang ngasih tau aku, dia nelpon kamu tadi pas kamu tidur”, jawabnya. Kulirik jam dinding rumah. “Wah! Udah jam tiga sore, mana mungkin ke kuliah lagi. Pasti kalo berangkat sekarang nyampe sana udah tutup kampusnya”, pikirku. “Udah besok aja lihatnya!’, kata Indra seperti tahu pikiranku.

Jam 05.10 subuh aku terbangun oleh suara adzan mesjid di dekat rumah. Kuambil air wudlu dan shalat shubuh. Setelah shalat kusempatkan menghapal beberapa ayat al-Qur’an juz 5, karena ini adalah salah satu materi tingkat tiga.

Sekitar jam 08.00 pagi aku berangkat ke kampus buat ngeliat natijah ujian. Kutunggu bis 80 coret, namun setelah setengah jam belum juga lewat. Akhirnya beberapa menit kemudian leawt juga si “bebek”. Kulihat ke dalam bis. “Wih… Penuh banget!, Apa boleh buat! Kalo nunggu bis yang lain bakal nambah satu jam lagi, padahal aku sudah nggak sabar liat natijah”, pikirku. Dengan perjuangan keras menahan kesabaran, berjejalan dengan orang Mesir, Afrika, dan negara lainnya, yang bau badannya “beda-beda”, setelah 45 menit sampai juga akhirnya di kampus. Aku turun dan berjalan cepat menuju kampus.

Kulihat kertas pengumuman di etalase. “Mana ya? Ryco…ryco…ryco! Sambil menunjuk kertas pengumuman aku mencari namaku”. “Nah dapat!”, gumamku. “Hah! Mumtaz!”, teriakku kecil. Aku nggak percaya, kuulangi lagi melihat natijah akhir. “Wah…bener!”, teriakku lagi.

“Ry…! Ryco! Bangun!”, Indra membangunkanku. “Adzan Maghrib tuh!”, lanjutnya. “Yaaaaa! Cuman mimpi!”, sesalku. “Mimpi apaan kamu Ry?”, tanya Indra. “Nggak!”, jawabku cepat.

“Ya Allah! Benarkanlah mimpiku jika itu memang baik bagiku!”, doaku setelah shalat maghrib.
Bumi Kinanah, Desa 10
Tgl 30 Sept 2004
hyungchui@yahoo.com

0 Comments:

Post a Comment

<< Home