Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Monday, October 18, 2004

Kerjasama Sementara

Kerjasama Sementara?
Mengupas Perselisihan Mesir Dengan al-Jazair Pada Pertandingan Bola Volly
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Peristiwa :
Setelah melalui pertandingan yang sulit regu volly Mesir berhasil meraih emas dengan skor 3-1 atas al-Jazair, pada sore tanggal 2 oktober 2004, yang merupakan hari kedelapan setelah pembukaan Olimpiade Arab di al-Jazair. Skor 3-1 diraih regu Mesir dengan 25-22 pada set pertama, 25-19 set kedua, 25-27 set ketiga, dan pada set keempat, ketika skor 24-21 untuk regu Mesir, salah satu dari regu al-Jazair memprotes atas keputusan wasit, sehingga wasit memberikan peringatan kepadanya. Ini berarti nilai gratis untuk regu Mesir 25-21, seketika itu wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir dengan kemenangan regu Mesir.

Namun keputusan wasit membuat para pemain al-Jazair dan para pendukungnya yang memenuhi stadion Syakir di kota Balidah tidak setuju, sehingga para penonton turun ke tribun untuk memprotes membantu para pemainnya. Hal ini berlangsung selama sepertiga jam seteah wasit mengumumkan hasil pertandingan…(al-Ahram, 3 Okt 2004)


Olimpiade di Athena yang dihadiri oleh mayoritas negara dunia memang lain dengan pertandingan yang hanya diikuti negara-negara satu regional. Event olahraga ataupun event yang lain mencakup banyak negara akan membuat negara-negara yang mempunyai kemiripan atau satu rumpun saling bekerjasama dan bersaing dalam meraih kemenangan. Namun hal ini tidak terjadi di semua negara yang mempunyai kemiripan tersebut. Penulis sekarang berdomisli di Timur Tengah, tepatnya di Mesir, karenanya berusaha mengkaji gejala yang timbul disekitar.

Di saat Olimpiade di Athena, negara-negara yang mempunyai rumpun Arab, saling mengumandangkan bahwa Arab itu satu. Jika salah satu negara Arab meraih medali berarti negara Arab yang lain mempunyai hak untuk berbangga walaupun bukan dari atlet negara mereka yang meraih medali. Kenapa hal ini terjadi? Mengapa mereka bersatu? Apa yang menyebabkan mereka bersatau?.

Semua hal tersebut bisa dijawab, jika kita memperhatikan bagaimana hebohnya negara-negara Arab ketika salah satu dari mereka meraih medali di Olimpiade, maka yang bersorak gembira adalah seluruh negara Arab. Perhitungan medali pun tidak hanya dibatasi negara mereka sendiri-sendiri, tetapi digabung menjadi satu. Ketika Irak mendapatkan medali pertamanya dalam cabang angkat berat, negara lain contohnya Mesir, al-Jazair, Arab Saudi, dan yang lain mengeluarkan pernyataan bahwa negara Arab telah mendapatkan satu medali. Betapa bangganya mereka semua, karena salah satu diantara rumpun mereka mendapatkan medali. Mereka merasa bangga, kenapa ? Karena pada saat itu mereka berjuang di kancah dunia internasional bukan di regional --hanya sebagian kecil negara dunia mengikutinya— yang melibatkan negara-negara satu benua saja. Mereka ( negara-negara Arab ) beranggapan yang hadapi adalah negara-negara yang mempunyai rumpun bangsa yang berbeda dengan mereka, terlebih lagi jika mereka mengandalkan negara mereka (negara-negara Arab) masing-masing. Mana sanggup? Mana mampu mereka berbangga bahwa mereka akan mendapatkan medali lebih dari satu, padahal mereka hanya mengirim atlet sebanyak 1-10 orang.

Selama membaca berita di media massa beberapa waktu lalu tentang Olimpiade, penulis sangat berbangga, Menagapa negara-negara Arab bisa begitu? Mereka bersatu saling mendukung, saling memberi semangat, saling kerjasama. Mengapa kita --termasuk penulis—sebagai negara-negara yang mempunyai rumpun Melayu tidak seperti itu? Mengapa kita tidak saling mendukung dan memotivasi agar kita sebagai negara yang mempunyai kesamaan rumpun yaitu Melayu bisa lebih banyak memperoleh medali, dan tidak hanya sampai disitu, mungkin kita bisa menjadi negara-negara rumpun Melayu bisa menjadikan negara kita lebih maju, tidak lagi menjadi negara dunia ketiga seperti yang diasumsi dunia. Ini merupakan refleksi dari Olimpiade tersebut.

Namun rasa bangga yang ada pada penulis berhenti seketika ketika membaca berita di al-Ahram ( koran terkemuka Mesir ) terbitan tanggal 3 Oktober 2004. Mengapa ketika Olimpiade Arab diadakan justru membuat bentrok negara-negara Arab itu sediri? Mengapa dalam ruang lingkup yang lebih kecil mereka tidak dapat menunjukkan rasa kekeluargaan dan kerjasama mereka? Apakah jiwa Nasionalisme yang mengarah ke Chauvinisme akan muncul jika pertandingan hanya diadakan antar rumpun negara Arab saja?

Alangkah indahnya jika kerjasama yang negara-negara rumpun Arab miliki ketika di Olimpiade Athena tetap ada di Olimpiade Arab. Betapa indahnya terlihat mereka rukun. Bagaimana mau menggemakan agama Islam dan menghancurkan negara Barat yang notabenenya adalah Kristen jika antar negara Arab/ Negara Islam saja sudah saling sikut-menyikut, tinju-meninju, gebuk-gebukan ?.

Desa sepuluh, Cairo 4 Okt 2004

0 Comments:

Post a Comment

<< Home