Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Saturday, July 10, 2004

Stagnasi Pemikiran...

Stagnasi Pemikiran Muslim Merupakan Keberhasilan Orientalis?
Oleh : Muhammad Abqary

Menurut Ahmad Sa’di, salah satu pemikir Malaysia, istilah Orientalisme terdiri dari dua kata yaitu oriental dan isme. Oriental berarti bersifat Timur, sedangkan isme adalah faham dan ajaran. Maka orientalisme dapat diartikan sebagai faham dan ajaran yang bersifat ketimuran atau dengan kata lain, faham yang mengetengahkan isu-isu masalah Timur.

Pengertian lain dalam buku Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (Akar Ideologis dan Penyebarannya) yang disusun oleh Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Orientalisme adalah gelombang pemikiran yang mencerminkan berbagai kajian ketimuran yang berkaitan dengan Islam. Biasanya, aspek yang menjadi kajian faham ini seperti peradaban, agama, seni, sastera, bahasa dan kebudayaan. Kajian Orientalisme menghasilkan satu pandangan besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap Islam dan dunia Islam. Persepsi yang terbentuk adalah mundurnya pola fikir dunia Islam dalam cangkah pertarungan peradaban, antara Timur (Islam ) dengan Barat (Kristien/Yahudi).

Perhatian Barat terhadap dunia Timur khususnya umat Islam sejak dari abad ke 19, telah melahirkan Orientalisme ini dan semakin berkembang secara aktif dan intensif. Pada dasarnya, faham ini yang bergerak atas dasar keilmuan dengan melakukan kajian dan penelitian ilmiah.

Namun demikian, dari segi lain, para Orientalis merupakan golongan yang berusaha memerangi Islam melalui kajian-kajian tentang masyarakat Islam. Mereka menyebarkan pengaruh menggunakan beberapa cara seperti penulisan buku-buku Islam, menerbitkan majalah-majalah khusus membahas tentang Islam, dunia Islam dan masyarakatnya, mengadakan acara-acara seminar, ceramah-ceramah ilmiah di institusi perguruan tinggi.

MUIR, Watt, Puin, Crone, Schlatt, Goldziher dan orientalis lain pasti tersenyum girang. Karena usaha keras dan jarum halus mereka (para Orientalis) untuk menundukkan dunia Islam dengan mengkritik kesahihan agama Islam sebagai agama wahyu dan mengacaukan pemikiran umatnya, sudah membuahkan hasil.

Hal yang sangat disayangkan bagi kita umat Islam dan memuaskan bagi mereka ialah keberhasilan dalam mempengaruhi pemikiran umat Islam. Jangan terkejut, jika golongan yang terpengaruh oleh mereka tidak terbatas umat Islam yang agak kebaratan atau tipis semangat keislaman, akan tetapi juga menyebar ke umat Islam dari kalangan yang mengaku dan diakui sebagai pejuang Islam. Tidak terkecuali kelompok yang dianggap ilmu agamanya sudah tinggi.

Penulis S Parvez Manzoor, dalam bukunya Method Against Truth: Orientalism and Quranic Studies, berpendapat, penelitian dan pembahasan orientalis Barat terhadap al-Quran, tanpa melihat manfaat dari penelitian dan pembahasan tersebut, lahir dari kebencian yang mendalam dan dijadikan sebagai dendam kusumat terhadap Islam.

Penghargaan yang mereka kejar, menurutnya adalah penguasaan terhadap umat Islam. Barat percaya, untuk menghadapi dan menyelesaikan ancaman Islam, penganut agama Allah seharusnya dikecewakan dengan ketentuan risalah Islam sendiri seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Hanya umat Islam yang tidak percaya dan kurang yakin dengan kesahihan dan otonomi doktrin al-Quran, akan mengabaikan misi universalitas Islam dan akhirnya hanya mengakui dominasi global Barat.

Perbuatan ketidakadilan Orientalis Barat terhadap agama dan penganut Islam turut ditonjolkan oleh penulis berbangsa Swiss, Roger Du Pasquier dalam bukunya Unveiling Islam. Beliau yakin, kajian orientalis Barat tidak bersandarkan semangat keadilan ilmu pengetahuan yang tulen dan seringkali berniat untuk meremehkan Islam.

Sebagai barometer keberhasilan Orientalis, dapat dilihat dalam umat Islam sendiri yang kini begitu terpengaruh, sehingga ketika berfikir, baik secara sadar ataupun setengah sadar, selalu mengikuti jalan berfikir musuh Islam. Yang sudah jelas, pemikiran yang mereka anut sudah diwarnai dan dimasuki oleh berbagai konsep yang dibuat dan disebarluaskan oleh golongan bukan Islam.

Contoh yang paling jelas adalah isu Sekularisme yang menjadi puncak permasalahan terbesar dan polemik berkepanjangan di kalangan umat, termasuk di Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa sekularisme adalah salah satu senjata yang digunakan dan dimanfaatkan oleh Orientalis untuk melemahkan kekuatan umat Islam. Melalui pendekatan ini, keyakinan dan pendalaman penganut Islam menjadi longgar, yang mengakibatkan berkurangnya kesadaran beragama (raison d’etre) masyarakat Muslim.

Sekularisme sering kali diartikan sebagai pemisahan antara urusan agama dengan kehidupan duniawi.

Dari segi filologinya, kata secular berasal dari bahasa Latin, saeculum yang mempunyai tujuan duniawi. Jika ditelusuri perkembangan sejarahnya, Sekularisme dikembangkan dari pemikiran rasionalisme zaman Yunani, nilai madani dan kemasyarakatan zaman Greco-Roman, zaman Reformasi, Renaissance, Kalvinisme dan falsafah moral dan empirik Enlightenmentisme.

Pada awalnya, konsep Sekularisme banyak dipengaruhi ahli filsafat Yunani, khususnya Aristoteles, yang mengakui dan beranggapan bahwa tuhan tidak mengetahui hal duniawi dan tidak membimbingnya. Kemudian salah seorang pemikir, Will Durant mengembangkan pemikiran ini dengan konsep Tuhan yang tidak berupaya.

Sekularisme muncul dan digunakan dan dipakai dalam dunia Kristen, sebagian dari mereka sebagai pemberontakan terhadap autokrasi atau teokrasi kelompok Paderi di zaman kegelapan Eropa (European Dark Ages). Kemunculan ini bertepatan dengan terpengaruhnya pemikir-pemikir Eropa dengan Rasionalisme. Pemikir handal dalam golongan ini ialah Thomas Paine dengan tulisannnya yang berpengaruh, The Age of Reason.

Setelah berhasil menundukkan kelompok Paderi dan gereja Kristen, Sekularisme mengalami perubahan wajah. Pada abad ke-18, faham tersebut didominasi oleh pemikir berfaham Ateis dan Agnostic; kelompok pertama menolak sama sekali interfensi fungsi agama dalam urusan kehidupan, karena mereka menafikan konsep ketuhanan itu sendiri; sedangkan golongan kedua hanya mementingkan pencapaian dan keberhasilan duniawi berada di tangan manusia sendiri.

Pada abad ke-19 dan ke-20, pertentangan terjadi lagi antara liberal humanisme dengan sosialisme-komunisme. Namun pertetangan tersebut tidak berjalan lama dengan berakhirnya blok sosialis pada akhir abad ke-20, liberal humanisme kini unggul dengan terwujudnya dua dasar pemikiran mereka: kapitalisme pasar bebas dan demokrasi liberal. Futuris Amerika, Francis Fukuyama adalah dua diantara pemikir yang memunculkan faham ini.

Sekularisme dari awal kemunculannya sehingga variasi yang mendominasi wacana intelektual kini, adalah rancangan ideologi (ideological construct) Barat. Sejarah Imperialisme Barat yang tidak sedikit dibantu oleh Orientalis, sebagian diantaranya adalah muballigh Kristen, sudah menjelaskan bahwa Sekularisme cukup berkesan sebagai senjata untuk memecahbelahkan umat Islam.

Karena sumber konsep ini bukan Islam, tentu dasar pertimbangannya pun juga tidak bersumberkan al-Quran dan Sunah. Hal inilah yang sangat berbahaya, karena jika konsep yang jelas begitu asing dari Islam, digunakan oleh pemikir Islam untuk menilai dan menghukum pemerintah Islam.

Anggapan bahwa Sekularisme bertentangan dengan Islam, tidak perlu disangsikan lagi:

“Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu.” (surah Adz-Dzaariyaat, ayat 56)

“Katakan (wahai Muhammad): Adakah kamu yang lebih mengetahui atau Allah?” (surah al-Baqarah, ayat 140).

Selain itu, banyak firman Allah swt yang menunjukkan bahwa Sekularisme sama sekali bertentangan dengan Islam.

Dr Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya “Al-Hulul al-Mustawradah wa Kayfa Jaat ‘alaa Ummatina” menyatakan, “Sekularisme memang mungkin diterima dalam masyarakat Islam. Dalam masyarakat Muslim, Islam ialah sistem pengabdian (ibadah) dan perundang-undangan (syariah). Penerimaan terhadap Sekularisme, sama saja dengan meninggalkan syariah, dan merupakan penafian al-Quran serta penolakan terhadap ajaran Allah.”

Zaid Shakir dalam makalahnya, The Changing Face of Secularism and the Islamic Response, menyatakan bahwa liberal Sekularisme menganut etika bermotifkan keuntungan yang menggantikan etika peninggalan para rasul dalam dunia perdagangan.. Dan beliau menambahkan bahwa keserakahan mengejar laba adalah rasional bagi beberapa pihak yang mempunyai hak dalam Perjanjian Antarabangsa mengenai Tarif dan Cukai (GATT) dan Pertubuhan Perdagangan Sedunia (WTO). Hal ini akan membenarkan perusahaan transnasional untuk melakukan kesalahan dan memonopoli secara terang-terangan.

Hal yang sama juga berlaku dalam HAM. Prof Shad Faruqi, ahli hukum di Universitas Teknologi Mara (UiTM), berpandangan konsep yang dipaksa oleh Barat terhadap masyarakat lain banyak bertentangan dengan Islam. Antaranya, hak individu sebanding hak masyarakat dan keluarga. Di Barat, seseorang bebas untuk mewariskankan harta kepada siapa pun, bahkan binatang peliharaannya, tetapi dalam hukum faraid, harta warisan seharusnya dibagikan kepada ahli waris terdekat sesuai bagian yang ditetapkan.

Walaupun banyak contoh yang terlihat jelas dalam pertentangan nilai Islam dan Barat dalam konsep HAM, malangnya, mayoritas umat Islam ikut keliru dengan konsep yang pada permukaan kelihatan wajar. HAM, demokrasi, globalisasi, liberalisasi, adalah berdasarkan keadilan , kebebasan, kesamarataan?.

Pada kenyataannya, jarum musuh Islam sudah menyebar dan menusuk tajam ke tubuh umat Islam, sehingga umat akan kehilangan keyakinan diri dan kemurnian pemikiran mereka. Yang paling menakutkan, golongan yang dianggap bersemangat Islam juga secara tidak sadar menjadi alat golongan Orientalis dan musuh Islam.
Buktinya, mereka terpaksa menyandarkan ide dari musuh Islam dalam ketandusan dan kekacauan pemikiran sendiri. Keadaan ini tentunya cukup memprihatinkan, karena dewasa ini pertentangan antara agama secara umum dan Islam secara khususnya dengan Sekularisme sudah kembali. Sebagian intelektual Barat sendiri, termasuk Ernest Gellner, mengakui dalam polemik ini, Islam adalah pembawa panji-panji untuk golongan yang mempercayai agama. Ini berdasarkan hakikat Islam adalah agama yang benar.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home