Who Created Me And It is He Who Guides Me

You can fool one man many times, you can fool many people once, but you cannot fool all the people all the time

Sunday, June 19, 2005

Suratku Buat Yang Ngebaca!

Ass...
Ketika saya bertanya kepada salah satu teman Maroko tentang, Kenapa kita dalam mempelajari mata kuliah tidak pernah praktek?
Wah...Abqory. Kita dalam belajar hukum adalah hanya untuk mengetahui tentang hukum tersebut, bukannya mau mempraktekkannya sebagai pengacara, hakim dan para pelaku hukum lainnya. Yang kita pelajari ini adalah hukum yang diambil dari Islam. Kebanyakan hukum yang kita pelajari di syariah wal qonun adalah hukum serapan dari Perancis dan negara-negara lainnya yang bukan negara Islam. Nah Apakah kamu mau jadi hakim, pengacara, dan pelaku hukum yang bukan hukum Islam?
Saya tersentak ketika mendengar jawaban tersebut. Saya tidak tahu apakah pikiran saya yang salah, ataukah pendapat dia? Friend...Kenapa kita tidak mempermudah saja dengan tanpa mengenyampingkan ke-Islam-an kita. Hukum-hukum yang diserap dan dianut banyak negara adalah demi kemashlahatan manusia. Begitu juga Islam. Kemajuan Barat dan negara sekitarnya adalah juga karena menganut ajaran hukum Islam (selain Imaniyah dan Ubudiyah).
Apakah kita terlalu picik dan mengatakan bahwa yang berasal dari Barat dan Negara bukan Islam itu selalu salah dan bertentangan dengan ajaran Allah swt. tuhan kita?
Saya tidak habis pikir. Apakah praktek yang dilakukan hanya untuk mengejar profesi, bukan friend...!Praktek adalah merupakan pembelajaran yang dapat lebih memperjelas teori yang kita dapatkan.
Wass...

Nama-nama Orang Jepang And Pekerjaannya.

Kuraba Sakumu : Pencopet.
Sayabisa Urusi : Calo.
Nikita Sukanari : Penari di tempat hiburan.
Samakami Sampepagi : Cewek penghibur di nightclub.
Takasi Kamucoba : Sales door to door.
Kosewa Rumaku : Pemilik rumah kontrakan.
Kitakasi Murasaja : Seorang pemilik toko.
Minumi Kabeh : Seorang pemabuk.
Itumu Akuraba : Orang gatal, psikopat seks.
Nanako Kasisamakita : Menerima pakaian dalam bekas.
Yukasi Kitaterima : Kasir.
Akusuka Takuti : Preman.
Mukamu Sayabedaki : Pekerja salon.
Sini Takupotongi : Tukang pangkas.
Ayodiri Satusatu : Pemimpin upacara baris-berbaris.
Takada Gaji : Pengangguran.
Aigaya Sanasini : Fotomodel.
Kitabuka Kamupoto : Fotomodel p*rno.
Akubuka Kamumasuki : Penjaga pintu gerbang.
Sukabawa Sayuri : Tukang sayur.

Tyada Ruma : Gelandangan.
Yukira Kitaawasi : Pengawas Pajak.
Aisuka Susumu : Penjual pakaian dalam wanita.
Kanji Kitakasi : Tukang jual tepung.
Maunya Chiumi : Parfum tester.
Kuobati Anumu : Dokter penyakit kelamin.
Kusabuni Itunoda : Tukang cuci.
Satemura Oke : Tukang sate.
Disini Adaguchi : Penjual keramik.
Masimuda Masutipi : Artis cilik.
Sakunya Rata : Pengangguran
Anunya Kitakasi : Germo
Kuliti Ikane : Tukang Jual Ikan
Takasimura Kabeh : Tukang Jual Grosiran

Saturday, June 18, 2005

Tidak Ada Kata Sibuk

Tidak Ada Kata Sibuk

Assalamualaikm Semua!
Ikut Nimbrung Nih Hyungchui!

“Eh…Kak, hari Senin jadi pembicara di Diskusi ya?”, pinta Ari ke Rio.”Wah sorry ya Rio aku sibuk, ada rapat di .../ wah sorry Rio aku lagi ada kerjaan di…/wah sorry Rio aku lagi muqarraran nih…!”, jawab Ari.

Cerita diatas hanya sekedar synopsis pembuka and sekaligus biar teman-teman agak nyambung (he…) maksud saya. Sering nggak ya kalo kita minta seseorang and trus dijawab gitu? pernah nggak ya kalo kita mohon seseorang untuk mengisi di acara diskusi trus dijawab sibuklah!, ada kerjaanlah!, wah sorry ya lagi muqarraran nih!, kemungkinan salah satu dari yang saya sebutin itu adalah jawabannya. Namun kalo kita perhatiin and pahami maksudnya, kalo sibuk pada hari itu berapa jam sih sibuknya?, kalo ada kerjaan pada hari itu berapa jam sih kerjaan itu baru bias selesai?, kalo muqarraran pada hari itu berapa jam sih “dia” muqarraran dalam sehari. Saya yakin “dia” sibuk nggak bakal 24 jam atau sehari semalam, “dia” ada kerjaan nggak bakal mungkin sehari semalam atau 24 jam, atau lebih nggak mungkin kalo “dia” muqarraran selama 24 jam penuh. Ya nggak? Wah jadi ngomongin orang ding! Ah…nggak kok! Yang penting kan nggak nyebutin nama orang, kalo nyebutin nama orang mah namanya ghibah. Udah ah...jadi ngelantur!

Nah…hal seperti itu menurut saya nggak bakal terjadi kalo orang yang kita minta tersebut orang yang terjadwal. Maksud saya ya…dia mempunyai jadwal yang bisa ngebagi2 kerjaan dalam sehari. Bener nggak teman2?

“Dia” sesibuk apapun, kalo kita minta nggak bakal ngejawab gitu (”Wah sorry ya Rio aku sibuk, ada rapat di .../ wah sorry Rio aku lagi ada kerjaan di…/wah sorry Rio aku lagi muqarraran nih…!”) kalo ”dia” terjadwal.

Allah udah cape2 bikin satu hari itu 24 jam, ya kan? Masa 24 jam hanya digunakan cuman satu kegiatan?

Saya mau ngajak teman2 berpikir nih! Coba misalnya “dia” ada rapat di sesuatu instansi, nah nggak mungkin kan rapat itu 24 jam, yang ada mungkin hanya 2-3 jam, masa nggak mungkin untuk mengisi diskusi di instansi yang lain? Nggak mungkin kan!

Nah kalo kerjaan kaya gitu “dia” jadwalkan kan nggak mungkin ada Kata Sibuk dikamus “dia” ya nggak?

Gimana mau nggak ngejadwal kerjaan teman2?

I know you can do it, it’s just simple job to do, but great finish for us.

Konsisten Untuk Mencapai Tujuan

Konsisten Untuk Mencapai Tujuan
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Bosan, jenuh, lelah, suntuk, dan banyak kata yang masih tersimpan dalam benak serta hati kita para mahasiswa universitas al-Azhar. Mesir negara padang pasir yang sangat gersang dan jauh berbeda dengan kehidupan kita di Indonesia menjadi salah satu alasan yang menyebabkan kata-kata diatas muncul dan bersarang di benak kita. Belum lagi Universitas al-Azhar sendiri, yang dimata dunia adalah universitas terkenal se-dunia dan tertua, mempunyai jalur administrasi kurang jelas, system pendidikan yang masih menggunakan system konvensional (dosen menjelaskan dan para mahasiswa hanya mendengarkan. Boleh bertanya, tetapi harus puas dengan jawaban sang dosen, kalau tidak akan dikeluarkan dari ruang kuliah, seperti SD, SMP, dan SMU), dan bangunan-bangunan universitas pun tetap apa adanya tanpa renovasi agar terlihat indah dan memberikan kesejukan para mahasiswa untuk memandangnya.

Mengapa para petinggi al-Azhar tidak menginginkan perubahan? Apakah dengan system konvensional akan mengantarkan para alumninya mampu bersaing dalam dunia yang sekarang dimana orang bukanlah hanya membaca dan mendengarkan apa yang dijelaskan serta dituliskan “sang guru” lagi, akan tetapi terus bergerak untuk membaca, meneliti, mengkaji dan menemukan inovasi terbaru? Apakah administrasi yang berbelit-belit akan tetap dipertahankan dalam universitas ini, walaupun jalur praktis dan sederhana sangat dibutuhkan ketika para mahasiswanya semakin banyak mencapai jutaan orang?

Jika dikatakan bahwa al-Azhar tetap menggunakan system konvensional karena kekonsistenannya agar mencapai tujuannya untuk menyebarkan agama Islam secara menyeluruh. Sangatlah tidak masuk diakal, karena system pendidikan seperti ini, walaupun dapat menyebarkan ajaran Islam itu sendiri, namun menyebabkan banyaknya mahasiswa yang “mandul”. Lihat saja, jika seorang mahasiswa tidak dapat berdiskusi dengan dosennya ketika penyampaian materi agar dapat bertukar pikiran, baik mengenai hukum yang terkandung dalam Islam maupun prakteknya. Ini akan menyebabkan sang mahasiswa malas dan tidak mempunyai keinginan mengetahui lebih dalam dan secara benar tentang masalah yang disampaikan. Yang akan menimbulkan kesalahpahaman dalam permasalahan tersebut. Selain itu, walaupun sang mahasiswa mampu mengerti permasalahan yang disampaikan oleh sang dosen, namun dimanakah dia dapat mempraktekkan ilmunya tersebut? Apakah yang dapat dilakukan oleh dia dalam hal itu? Ilmu hanya tinggal ilmu. Pemahaman hanya bermanfaat sewaktu ujian. Jika sang mahasiswa paham dan dapat menyampaikan serta menuliskannya dalam kertas ujian dengan baik, maka dia akan lulus. Apakah ini yang dinginkan al-Azhar? Saya kira tidak.

Kekonsistenan al-Azhar dalam menjalankan system pendidikannya sampai saat ini, perlu kita contoh. Namun seperti kalimat yang sering digunakan orang “Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk”, seperti itulah kiranya kita. Konsisten al-Azhar lah yang perlu kita ambil, dan penggunaan system konvensional yang ada sebaiknya kita hindari. Manusia selalu berubah, waktupun ikut berubah, dan juga kondisi, situasi serta keadaan dari zaman ke zaman selalu berbeda dan tidak akan pernah sama. Apakah system konvensional ini akan tetap sesuai dengan zaman yang semakin maju dan selalu berubah? Dr. Muhammad Abduh juga mengatakan bahwa Islam pada saat kegemilangannya mempunyai prinsip “Perhatikanlah, kajilah, telitilah, dan diskusikanlah” dan Kristen mempunyai prinsip “Bacalah dan dengarkanlah yang dikatakan oleh gurumu dan janganlah membantah”. Mengapa sekarang terbalik. Orang Barat menggunakan prinsip yang dulunya milik kita orang Islam, sebaliknya kita (Islam/Timur) menyerap pinsip yang dimiliki oleh Kristen, yang meyebabkan mereka terpuruk selama ribuan tahun dan baru bangkit.

Seperti yang saya sebutkan diatas, konsisten sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan, tapi dengan syarat konsisten yang sesuai dengan keadaan. Bukanlah sebaliknya. Ibarat kita sebagai mahasiswa. Kita diharapkan untuk selalu konsisten dalam melakukan kegiatan yang mengandung unsur pembelajaran, bukan hanya konsisten dalam hal hura-hura dan main-main. Memang hura-hura dan main adalah sesuatu refreshing kita, akan tetapi hanyalah selingan yang menjadi penyemangat kita agar selalu konsiten dalam melakukan kegiatan pembelajaran.

Sangat sulit memang untuk konsisten dalam kegiatan yang mendukung pembelajaran, namun kita manusia hanya bisa berusaha dan Allah swt. yang menentukan.

Saqr Quraisy, 9 April 2005

Friday, June 17, 2005

Suratku Buat Yang Ngebaca!

Ass...
Ketika saya bertanya kepada salah satu teman Maroko tentang, Kenapa kita dalam mempelajari mata kuliah tidak pernah praktek?
Wah...Abqory. Kita dalam belajar hukum adalah hanya untuk mengetahui tentang hukum tersebut, bukannya mau mempraktekkannya sebagai pengacara, hakim dan para pelaku hukum lainnya. Yang kita pelajari ini adalah hukum yang diambil dari Islam. Kebanyakan hukum yang kita pelajari di syariah wal qonun adalah hukum serapan dari Perancis dan negara-negara lainnya yang bukan negara Islam. Nah Apakah kamu mau jadi hakim, pengacara, dan pelaku hukum yang bukan hukum Islam?
Saya tersentak ketika mendengar jawaban tersebut. Saya tidak tahu apakah pikiran saya yang salah, ataukah pendapat dia? Friend...Kenapa kita tidak mempermudah saja dengan tanpa mengenyampingkan ke-Islam-an kita. Hukum-hukum yang diserap dan dianut banyak negara adalah demi kemashlahatan manusia. Begitu juga Islam. Kemajuan Barat dan negara sekitarnya adalah juga karena menganut ajaran hukum Islam (selain Imaniyah dan Ubudiyah).
Apakah kita terlalu picik dan mengatakan bahwa yang berasal dari Barat dan Negara bukan Islam itu selalu salah dan bertentangan dengan ajaran Allah swt. tuhan kita?
Saya tidak habis pikir. Apakah praktek yang dilakukan hanya untuk mengejar profesi, bukan friend...!Praktek adalah merupakan pembelajaran yang dapat lebih memperjelas teori yang kita dapatkan.
Wass...

Tuesday, April 19, 2005

Manusia Setengah Dewa

Manusia Setengah Dewa
Lagu Iwan Fals

Wahai Presiden Kami Yang Baru
Kamu Harus Dengar Suara Ini
Suara Yang Keluar Dari Dalam Goa
Goa Yang Penuh Lumut Kebosanan
Walau Hidup Ada Permainan
Walau Hidup Adalah Hiburan
Tetapi Kami Tak Mau Dipermainkan
Dan Kami Juga Bukan Hiburan
Turunkan Harga Secepatnya
Berikan Kami Pekerjaan
Pasti Kuangkat Engkau Menjadi Manusia Setengah Dewa
Masalah Moral Masalah Akhlak Biar Kami Cari Sendiri
Urus Saja Moralmu Urus Saja Akhlakmu
Peraturan Yang Sehat Yang Kami Mau
Tegakkan Hukum Setegak-Tegaknya
Adil Dan tegas Tak Pandang Bulu
Pasti Kuangkat Engkau Menjadi Manusia Setengah Dewa

Lihat, baca, dan nyanyikan! Kita akan mengetahui, bahwa di dunia ini tidak ada hukum yang salah, tidak ada hukum yang dibuat untuk mengacaukan kehidupan, tidak ada hukum yang dibuat untuk menindas manusia. Akan tetapi yang ada hanyalah penyalahgunaan hukum oleh manusia. Buat apa sulit-sulit berusaha mengubah peraturan yang ada? Buat apa sulit-sulit berusaha mengganti pemimpin yang berkuasa jika yang naik tetap sama melakukan kesalahan sebelumnya? Yang cuma akan menghasilkan kesimpulan yang sama.

Suatu perbaikan tidak akan memunculkan hasil secara langsung dan “simsalabim” seperti sulap, akan tetapi dengan secara bertahap.

Islam pun dalam mengubah peraturan yang ada pada orang-orang Jahiliyyah, tidak dilakukan secara mendadak. Contohnya perubahan peraturan dalam minum arak. Islam tidak langsung melarang manusia untuk tidak meminumnya dan meninggalkannya. Seperti itulah juga kiranya kita berusaha mengubah pemerintahan serta orang-orang yang menyeleweng. Suatu negara tidak akan mencapai kejayaan, jika hanya dengan system demokrasi yang sering digembar-gemborkan oleh masyarakat sekarang, tidak akan mempunyai sumber daya yang cukup jika hanya menurunkan pemimpin yang kurang lurus, tidak akan mendapatkan impian jika hanya dengan mengganti dan merombak peraturan-peraturan yang ada.

Memang benar yang dikatakan Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, bahwa dalam memperbaiki negara, kita harus memperbaiki sumber daya dulu. Rakyat yang harus dibenahi, bukanlah system, peraturan, dan pemimpin. Dari pembenahan rakyatlah yang akan memunculkan sumber daya-sumber daya bermutu yang dapat dipilih menjadi pemimpin dan “dengan kehendak Tuhan” akan menjadikan negara terjamin. Lain halnya jika pemimpin itu terpilih dari orang-orang yang belum terdidik dan hanya mementingkan kepentingan sendiri. Maka hasilnya akan seperti itu juga, terlahir pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan sendiri dan tidak mampu menghadapi masalah.

Dari sana akan timbul pertanyaan. Siapa yang akan mengajarkan kepada kita keahlian sehingga terwujud sumber daya yang mumpuni dan mampu mendorong negara mencapai kemajuan? Sedangkan kita semua adalah orang-orang yang “mungkin” tidak mampu untuk melakukan itu.

Putud asa adalah sifat kita yang sangat mengkhawatirkan, sehingga kita tidak mau mencoba, karena takut akan hasil yang muncul. Keputusasaan kita untuk mendapatlkan orang yang pantas membina dan mendorong kita menuju ke sumber daya yang produktif lah yang menyebabkan kita tidak akan mencapai kemajuan yang kita harapkan. Keputusasaan kita yang hanya mengharapkan hasil secepat mungkin tanpa berusaha pulalah yang menjadikan kita terbiasa dengan formula-formula “jadi” dari Barat, sehingga kita menyerap produk mereka tanpa tendeng aling-aling dan langsung makan.

Bukankah kita sudah merasakan dari kecil dulu. Kita lahir dengan isak tangis yang keras, kemudian mulai berkembang dengan perlahan-lahan, masa demi masa kita mulai memahami dunia tempat kita tinggal, itupun juga secara perlahan-lahan, sampai kita besar dan dewasa, tanpa bimbingan orang tuapun sudah dapat melakukan aktifitas. Hal itu melalui masa yang panjang dan dibutuhkan kerja keras dalam mencapainya. Mengapa kita tidak sadar akan hal itu? Mengapa kita hanya menginginkan hasil yang cepat? Kita kembalikan pertanyaan itu kepada diri sendiri.

Saqr Quraisy, 10 April 2005

Islam, Agama Dan Negara!

Menanggapi “Mereka” Yang Ingin Memisahkan Dan Mengikatkan Secara Penuh Antara Agama Dan Pemerintahan
Oleh: Muhammad Abqary Abdullah Karim

Mengapa “mereka” selalu menganggap harus adanya pemisahan antara agama dan pemerintahan dengan alasan agar agama tidak kehilangan kemurnian? Mengapa “mereka” menyangka bahwa interfensi agama ke pemerintahan akan menyebabkan kelumpuhan pemerintahan itu sendiri? Mengapa “mereka” mengambil kesimpulan bahwa agama-lah yang menyebabkan kegagalan pemerintahan, baik di Barat maupun di Timur? Namun dilain pihak, mengapa ada yang mengharuskan adanya Tathbîq Syarî’ah Islâmiyyah dalam sebuah pemerintahan? Mengapa juga ada yang mengatakan bahwa Syarî’ah Islâmiyyah lah yang sempurna, sehingga pemerintahan akan mengalami kemajuan, jika Islam dilaksanakan secara penuh?

Semua hal diatas timbul dikarenakan penyimpangan sejarah yang dilakukan oleh mereka yang berkecimpung dan mengkaji sejarah. Bagaimana tidak, “mereka” yang mengatakan bahwa hukum Islam harus ditegakkan secara penuh tidakkah memikirkan tanggapan umat lain. Yang dari dulu kita ketahui tidak akan pernah menerima sedikitpun yang bersimbolkan Islam. Namun disamping itu, “mereka” yang mengatakan bahwa Islam harus terlepas dari pemerintahan, apakah tidak mengetahui keberhasilan Nabi Muhammad saw. dan para khalifah yang memimpin negara dengan mengambil dasar hukum Islam?

Sangat sulit memang untuk menarik kesimpulan yang dapat diterima oleh “mereka” yang memisahkan agama dengan pemerintahan. Memang sejarah menyatakan bahwa ketidakberkembangan Kristen diakibatkan tidak adanya pemisahan keduanya. Namun hal ini apakah sejarah yang sebenarnya? Apakah sejarah yang tertulis dan menjadi image kita selama ini benar?

Monsieur Hanoto, seorang Perdana Menteri Perancis pada tahun 1884, pernah saling beradu argumentasi dengan Dr. Muhammad Abduh tentang hal ini. Sang Perdana Menteri mengatakan bahwa Kristen atau Barat mengalami kemajuan setelah memisahkan kekuasaan agama dengan pemerintahan. Sedangkan Islam selama ini tidak pernah mencapai kemajuan sedikitpun dikarenakan penyatuannya dalam masalah agama dan pemerintahan.

Namun hal ini dijawab oleh sang Imam, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan dan mempunyai prinsip seprti itu (menggabungkan kekuasaan antara pemerintahan dan agama), akan tetapi Islam mengajarkan pembagian kekuasaan, dengan arti kekuasaan agama ditanggungjawabi oleh para ulama dan kenegaraan diurusi oleh para pemimpin, kedua kelompok tersebut tidak mempunyai interfensi terhadap yang lain.
Penggabungan kekuasaan dalam pemerintahan dengan agama dikarenakan para pemimpin yang tidak mempunyai pemahaman Islam secara menyeluruh, sehingga menjadikan agama sebagai tameng dalam berbuat sesuatu yang menyebabkan rakyat tidak berani membangkang terhadapnya.

Islam tidak salah dan mempunyai prinsip yang salah, akan tetapi orang yang menjalankannya lah yang salah.

Disamping itu, semua kesimpulan yang diambil oleh sang Perdana Menteri juga diingkari oleh para umat Kristen dan petinggi agama itu. Salah satu petinggi Kristen yang berasal dari Lebanon dan merupakan salah seorang yang menjadi rujukan Kristiani dalam masalah agama mereka, mengatakan bahwa Kristen atau Barat mengalami kemajuan bukan karena pemisahan agama dengan pemerintahan. Para petinggi Kristen Katholik Barat pun menyangsikan pendapat sang Perdana Menteri dan mengatakan bahwa kesimpulan yang diambilnya sangat tidak tepat, karena Barat mengalami kemajuan adalah karena masyarakatnya yang mempunyai prinsip untuk berkembang dan mencapai kemajuan, bukanlah pemisahan pemerintahan dengan agama tersebut.

Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia juga menyatakan bahwa dalam pencapaian negara ke kemajuannya bukanlah hanya memperbaiki sistem pemerintahan tersebut, akan tetapi haruslah memperbaiki sumber dayanya, baik manusia maupun alam.

Sebaliknya “mereka” yang menginginkan penggabungan agama dengan pemerintahan, yang biasa kita dengar dengan mengatakan tatbîq Syarî’ah Islâmiyyah. Apakah hal ini akan menjadikan negara mengalami kemajuan? Bukankah akan terjadi sebaliknya, akan terjadinya perpecahan antar agama yang selama inipun tidak memiliki pemecahan? Kita sebagai orang Islam memang mengakui bahwa ajaran Islam mempunyai ajaran yang sempurna. Namun bagaimana yang lain? Apakah mereka akan juga mengakui setelah melihat umat Islam yang tidak pernah mengalami kemajuan, kecuali sejarah-sejarah yang dulu? Jangan harap!

Mengapa kita tidak berusaha memasukkan ajaran murni Islam kedalam negara tanpa menyatakan dan dengan “embel-embel” nama Islam. Biarkanlah Islam menjadi pondasi, tanpa harus muncul dan disebut-sebut. Dan biarlah Islam tidak terlepas sama sekali terhadap pemerintahan, karena hal itu akan menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan tersebut.

Saqr Quraisy, 9 April 2005

Monday, March 28, 2005

Selisik Tentang Indonesia!

Selisik Tentang Indonesia!

Indonesia memang tidak dapat dikatakan negara kecil di Asia tenggara, karena ia merupakan negara yang mempunyai ribuan pulau dan hektaran darat. Akan tetapi, Indonesia dapat dikatakan sebagai negara terkecil dalam perkembangan pendidikannya.

Memang benar Indonesia mempunyai 5 agenda besar yang 3 diantaranya sudah terselesaikan. Akan tetapi kapankan akan selesai 2 agenda yang tersisa, yaitu 2 agenda yang sangat merisaukan dan mengkhawatirkan jika hanya dibiarkan tanpa ada pengendali?

Clean Goverment dan The Rule Of Law merupakan 2 agenda yang belum terselesaikan. Karena inilah moral dan hukum negara semakin tidak mempunyai taring dalam pelaksanaannya.

Bagaimana bisa, hukum yang sebagus apapun, dilaksanakan jika pemimpin dan para ajudan-ajudannya saja tidak mempunyai hati nurani dalam hal itu? Bagaimana hukum dapat dilaksanakan jika pada kenyataan pelaksanaannya terdapat (some or many) penyelewengan?

Sebagus apapun peraturan itu, jika dalam pelaksanaan dan penerapannya tidak dijalankan oleh orang yang berhati nurani, tidak akan mencapai tujuan.

Jika Amien Rais mengatakan 2 agenda inilah yang harus kita selesaikan terlebih dahulu. Dan masalah pendidikan (human resources) merupakan program jangka panjang (long term decision) yang bisa ditunda setelah adanya kecukupan negara dalam pembiayaan.

Saya lebih memihak kepada Mahathir Muhammad, yang diakui Amien Rais sebagai teman dekatnya, yang mengatakan bahwa dalam pembangunan negara, kita harus mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan arti bahwa pendidikan, pembinaan mental dan perbaharuan dalam masyarakatlah yang harus diutamakan.

Dalam merubah negara kita tidak mampu melakukannya "simsalabim". Apakah dengan demokrasi akan dapat menjadikan pejabat yang terpilih berhenti korupsi (the way of life nya "orang Indonesia")?. Apakah demokrasi merupakan alat yang dapat langsung merubah adanya Black Goverment di suatu negara?.

Dalam merubah negara yang memiliki Clean Goverment dan Rule of Law, kita harus memperjuangkan program jangka panjang dalam pembinaan mental dan pendidikan masyarakat. Barulah kita akan dapatkan hasil.

Jika kita hanya berusaha membersihkan pemerintahan tersebut dengan menurunkan mereka, dan berusaha meluruskan jalannya peraturan dengan mengganti aturan itu sendiri, maka kita akan terjebak pada hal yang sama.

Ketika kita mengganti pemimpin dan pengikut-pengikutnya, kita akan menemui kesamaan yang tidak ada bedanya dari pemimpin yang dulu.
Ketika kita berusaha mengganti peraturan yang ada, kita akan menemukan kesamaan yang tak jauh beda dalam pelaksanaannya, karena sang pemimpin tetap mempunyai sikap dan prinsip yang sama.

Namun jika kita tetap biarkan peraturan tetap berjalan apa adanya dengan menjalankan program panjang dalam pembinaan mental dan pendidikan dengan segera dan terus menerus. Apakah tidak akan menyadarkan sendiri masyarakat dan juga aparat negara serta pemimpinnya untuk melakukan dan melaksanakan clean goverment dan rule of law?

1. Rekontruksi Mental Anda

Indonesia banyak memiliki warga yang memiliki mental kecil dalam berjuang di kancah dunia, kecuali segelintir orang. Inilah yang menjadikan Indonesia semakin terpuruk ke dalam jurang yang sangat dalam.

2. Think Globaly

Orang Indonesia hanya berpikir jika mereka mampu menguasai atau berkuasa dan diagung2kan di Indonesia itu adalah sudah cukup. Mereka hanya berpikir, jika bisa sukses di Indonesia merupakan keberhasilan yang luar biasa. Kenapa tidak berpikir untuk menguasai dunia dan bahkan alam semesta. Seperti katak dalam tempurung. Begitulah mungkin. Padahal diatas langit ada lagi langit. Sesuatu yang tinggi pasti ada lagi yang lebih tinggi.

3. Men Of Action Not Men Of Idea

Kita kadang hanya bisa mengusulkan dan tidak mau melakukannya (seperti saya). Dalam kehidupan yang alami, melakukan sesuatu lebih akan berguna dari mengusulkan sesuatu. Membaca buku saja tanpa praktek merupakan hal yang tidak mempunyai manfaat. Karena orang yang melakukannya hanya akan dapat memahami buku tersebut dengan kadar kemampuannya. Lain dengan yang membaca buku dan kemudian mendiskusikannya, selain paham dengan kemampuan juga dapat menyerap pemahaman2 luar.

4. Jadilah Orang Yang Berkualitas

Hah... berkualitas hanya orang yang bisa menilai. bukan diri kita sendiri. Kita hanya bisa berusaha dan orang lain yang melihat. terkadang pun orang yang memperhatikan kita bersifat subjektif, karena tidak melihat keseluruhan kita.

Hanya Allah swt. yang Maha Objektif.

Sunday, February 06, 2005

Film Porno!

Ass…

Izinkan saya sebelumnya tertawa…
Setelah menyaksikan tayangan elbeit beitak tadi malam (15 Feb 2005) muncul dalam benak saya suatu pertanyaan.

Apakah saya boleh menonton film porno?

Tadi malam elbait baitak membahas tentang hal yang baru lagi, seperti pada hari-hari sebelumnya. Namun hal yang dibahas kali ini membangkitkan jiwa saya untuk bertanya pada diri sendiri, apakah boleh menonton film porno? Wawancara ini dilakukan oleh kru elbait baitak dikarenakan pada paginya di Koran el Gumhuria memuat tentang artikel yang ditulis oleh Dr. Abdul Adzim Ramadhan, seorang penulis dan ahli sejarah, yang berjudul “film nadzifah wa film gairu nadzifah”.

Diawal wawancara si Duktur ditanya oleh dua pembawa acara “Apa yang dimaksud beliau dalam tulisan beliau yang berjudul “film nadzifah wa film gairu nadzifah”dimuat di Koran el Gumhuria?”.

Beliau menjawab,” Sebenarnya tidak ada yang namanya film nadzifah dan film gairu nadzifah. Yang namanya film…ya…film! Film adalah seni dan yang namanya seni tidak bisa dibedakan dan dibagi menjadi bersih dan tidak bersih! Semua film itu sama. Kalo film itu ditonton dengan fikiran yang baik, maka film itu akan baik, sedang kalo ditonton dengan fikiran dan otak yang kotor, akhirnya akan menjadi tidak baik.”

Ya… kaya’nya udah cukup saya bercerita tentang acara channel 2 ( Nangis…udah nggak punya parabola, isytirak pun tak ada, terpaksa kutonton juga acara MESIR, eh…malah meracuni fikiran lagi, akhirnya bertanya-tanya kaya’ gini).

Kenapa ya?

Kalo memang seperti itu, apa saja yang kita tonton, baik itu film yang biasa maupun porno, jika otak kita tidak berpikiran yang kotor, akan menjadi tontonan yang baik dan tidak kotor. Namun dilain pihak, agama mengatakan bahwa kita kaum laki-laki dilarang untuk memalingkan pandangan kedua kalinya kepada wanita yang sama. Nah…memalingkan pandangan kedua kalinya saja ke perempuan yang sama dilarang, apalagi melihat film yang setidaknya kita melihat berulang kali artis cantik, terlebih lagi aurat terbuka lebar. Nah gimana ya kalo pacaran? Hukumnya apa? Apa sama aja ama yang nggak pacaran? Kan sama-sama ketemu cewek yang bukan muhrim, cuman bedanya sering ketemu and nggak aja?

Wass...

Eh ada tambahan nih!

Di acara juga diadakan jajak pendapat dengan pertanyaan “Siapa yang akan mengambil manfaat dengan diberlakukannya Taksi Ibukota?”. Nah tunggu aja teman-teman. Kita lihat apakah taksi di Cairo bakal berubah warna, tambah murah, pakai cargo? Apakah akan berubah warna kuning seperti AS (yah ngikut2 aja loe!)? Apakah akan tetap seperti sekarang “kaya sedan busuk”?

He…Jangan khawatir saya gak ngajak-ngajak nonton film porno lho!


Ass..

Sebenarnya apa perbedaan antara cinta yang ada diantara kita dan cinta yang ada di film?

Kenapa kenyataan yang kita lalui sampai berumur seperempat abad ,kebanyakan dan bahkan selalu tidak sama dengan yang kita tonton di film-film?

Apakah si sutradara salah dan tidak melihat kehidupan nyata? Tidak saya rasa. Namun setelah diilihat di film-film ending yang ada, sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang kita lalui dari kecil ampe besar. Nah gimana tuh?

Apakah film dan kenyataan berbeda? Padahal ide film kan juga dari kehidupan nyata!. Ya jelas beda!.
Yang sangat disayangkan, hal-hal yang baik yang terjadi di film tidak terjadi di kenyataan, disamping itu hal-hal yang jelek di film malah terjadi juga di kenyataan. Namun hal itu saya maklumi, karena ide cerita film adalah kenyataan, sudah tentu film akan terlihat lebih bagus dari dunia nyata. Tetapi apakah kita harus mengacuhkan apa yang terjadi di film dan mengatakan ”ah, cuman film aja kok, pasti beda ma kenyataan and endingnya bahagia!”?.

Kenapa kita tidak mengambil manfaat dari film itu sendiri, walaupun film adalah sesuatu yang lahir dari “kenyataan dengan bumbu-bumbu biar sedap”?.

Kasus, masalah cinta si A adalah si kekasih si B (saling mencintai) dan si C juga suka sama si A. yang itu berarti si C adalah saingan si B. Namun si C bukan orang yang dicintai si A jelas kalah sama si B.

Selanjutnya, seperti yang saya tulis, hal yang baik dan buruk terjadi di film (masalah cinta), sedangkan yang terjadi di kenyataan malah buruknya aja yang ada (menurut pandangan sempit saya).

Kalo di film si C akan menjadi teman bagi si B dan berjuang dengan jujur agar si A mencintai dia. Namun apa yang terjadi di kenyataan? si C malah berjuang denagn segenap tenaga dengan cara yang curang agar mendapatkan si A dan menjadikan si B adalah musuh.
Kalo di film si C akan membiarkan si A yang dicintainya tetap saling mencinta dengan si B tanpa mengganggu mereka berdua, asalkan si A yang dia cintai bahagai dengan si B, dia akan bahagia. Namun apa yang terjadi di kenyataan? Si C memaksakan kehendak dan berusaha merebut si A dari tangan si B yang akhirnya menjadi tidak bahagia dengan dia.
Kalo di film si A akan dianggap teman oleh si C karena si A memang tidak mencintai dia. Namun di kenyataan si C akan menganggap musuh si A karena tidak mau menyintai dia.

Itu hanya sebagai contoh kecil saja, namun hal ini tidak mutlak. Bisa jadi di film yang lebih jelek terjadi daripada kenyataan, dan kenyataan lebih baik dari film.
Saya hanya manusia biasa yang hanya bisa melihat gejala disekitar saya.

Jadi (kalo Allah menghendaki) bagi para maniak film nggak rugi untuk nonton film. Dengan niat mengambil manfaat yang terkandung didalamnya dan sudah jelas buat refreshing. Heeeeeeeeee…

Terimakasih buat Abu Fida atas filmnya (dragon heroes dan shoot shoalin) akhirnya muncul pikiran ini. Filmnya bukan film silat tapi film komedi! Hahahahahahaha…

Nah, dilain pihak saya punya perasaan dan uneg-uneg. Ternyata nonton banyak film sangat membosankan, melelahkan, menyita waktu, sangat jauh beda dengan membaca banyak buku walupun sangat membosankan, tapi nggak melelahkan banget, dan malah tidak menyita waktu serta menambah ilmu lebih banyak.

Akhirnya selesai juga…
Ayooooooooo nonton…hehehehe…
Wass…

Tuesday, January 25, 2005

Pak Tua Ber-Jas!

Pria Ber-Jas
Oleh : Muhammad Abqary Abdullah Karim

Azan maghrib mulai berkumandang. Ade masih tetap didepan komputernya. Disampingnya Rio berbaring sambil membaca buku kebanggaan yang tidak pernah habis dibacanya. Dikamar samping diapartemen yang sama Indra berkicau dengan diiringi musik pujaannya.

“Ah sialan!”, bentak Ade, karena jagoannya di straight fighter kalah KO. “Kenapa sih De, Kok teriak-teriak kaya gitu?”, tanya Rio tanpa menjauhkan mukanya dari buku yang dibacanya. “Ini nih si spiderman kalah, belum lagi komputernya hang mulu!”, jawab Ade sambil nunjuk-nunjuk komputer dihadapannya.

"Sedikit ngerti ngaku udah pahamKerja sedikit maunya kelihatanOtak masih kaya 'TK,Koq ngakunya SarjanaNgomong-ngomongin orangKaya udah jagoan…….
Indra terus mengikuti lagu slank yang disukainya. Indra teriak tanpa tahu ternyata Ade dan Rio udah berdiri di depan pintu kamarnya. “Cuit…cuittttttttttttttt artis kita!”, suara Ade dan Rio kur membuat Indra berhenti dari keasikannya “konser”. “Ahhhhhhhh…ngenganggu, orang lagi konser juga!”, jawab Indra nggak mau kalah.

“Assalamualaikum…assalamualaikum…assalamualaikum!”, bel apartemen berbunyi. Ade, Rio, dan Indra tiba-tiba saling menatap. Mereka bingung kok sepagi ini ada tamu, padahal baru jam 07.00 pagi. “Siapa ya…?”, akhirnya Rio yang mulai membuka mulut memecahkan kebingungan mereka bertiga. “ Sana buka pintu De!”, perintah Rio. “Ye…enak aja, loe sana yang buka dong!”, jawab Rio ngambek.”Ya…deh!”.”Mien barra?”.”Gas…ya Basya!”, jawab orang diluar. Gas kok pagi-pagi gini, biasanya Maghrib? Rio bingung.”Ha…ha…ha…!Rio nggak usah bingung gitu! Cepetan buka pintunya! nggak mungkin kan ada tukang gas sepagi ini!”, sambung orang diluar memecahkan kebingungan Rio di belakang pintu. “Ohhhhhhh…Rio langsung membuka pintu, Ali toh! Kok mirip banget kamu sama tukang gas ngomongnya,emangnya cita-citanya tukang gas ya?”, Rio nyengir berhasil ngebalas keisengan Ali. “Ya, gitu aja balas dendam, he…!”, Ali menjawab dengan wajah cemberut.

“Mana yang lain”, tanya Ali. “Indra lagi konser tuh, kalo Ade lagi di hammam!”, jawab Rio.”Eh…Indra konser apaan?”.”Biasalah…konser di kamar tercintanya, tambah lagi lagu kesenangan dia, udah deh…gak tau orang lain lagi!.

“Eh…ada Ali ya!”, Ade keluar dari hammam. “Loe ngapain pagi-pagi mandi De?”, tanya Ali senyum simpul. “Iya…bener! Kamu ngapain mandi pagi-pagi De? Nggak biasanya!”, Rio ikutan nimbrung. “Ah…kaya’ nggak tau aja kalian tuh!”, jawab Ade tersenyum simpul. ”Udah ah! Jadi nggak ke Tahrier entar malam?”, tanya Ade mengalihkan pembicaraan.

“Jadilaaah…! Masa nggak jadi!”,Indra langsung menimpali, menghentikan konsernya dan keluar dari kamar, ikut bergabung dengan teman-temannya. “Emang ngapain sih ke Tahrier?”, tanyanya lagi.

“Biasalah!”,Ade udah necis dengan jeans hitam dan kemeja putih.“Wih! Necis banget De’? Mau kemana emangnya? Mau ngedet ya? Apa mau silaturrahim ke rumah para kaum hawa?”, tanya Indra beruntun, sambil ngeliat bajunya sendiri yang kumel.

“Mau mandi juga ahhh…!”, lanjutnya nggak mau kalah dari Ade.

“Pergi dulu ya…!”, Ade minta izin ke teman-teman yang lain sambil membuka pintu rumah. “Eh…mau kemana loe dari tadi kok nggak dijawab?”, tanya Rio tanpa memalingkan pandangannya dari muqarrar yang dia baca. “Mau ngambil minhah di Bank Faisal!”, jawab Ade tergesa-gesa. “Yeee…ye…yeee…pesta dong habis ke Tahrier entar!”Ali teriak.

Ade tidak menanggapi teriakan Ali lagi, karena dia sudah terlambat. Satu jam setengah lagi Bank Faisal tutup. Padahal perjalanan ke Ramsies dengan el Tramco makan waktu satu jam-an. Belum lagi berjalan ke stasiun Metro Anfaq dan ke Bank Faisalnya.

“Kalau terlambat sedikit saja bakal ngambil besok!”, gumam Ade dalam el Tramco.

“Kurie!”, sapa orang tua berjas yang duduk disamping Ade. “La! Andunisie ya…Ustadz!”, jawab Ade malas. “Kulliya eih? Syari’ah?”,tanyanya lagi. “Kulliya Syari’ah Wal Qonun, Sanah Tsaltsa!”, jawab Ade tersenyum pahit. “Rese banget orang tua ini!”, Ade berontak dalam hatinya. “Ohhh…Qonun! Ha tirga’ Andunisie wala bittasil kulliya hina ba’da takarrajta?”, tanya si orang tua berjas tanpa bosan-bosan. “Ha Argi’ Andunisie awwil wa hastamir kulliyah fi Ustralie! Inta ‘Arif Ustralie wala la ya…Ustadz!”, tanya Ade balik. “La!”, jawab orang tua itu singkat.

Nah…ini satu lagi gumam Ade di dalam hati. Udah necis pakai jas tapi tidak tahu tentang Australia.

Nggak salah memang pepatah mengatakan “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakannya”